Hadits Arbain (1): Semua Perbuatan Tergantung Niatnya
Azhar azis
Ahad, 22 Agustus 2021 - 05:00 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Ibadah adalah amalan hati. Jika hati jernih, bersih, tulus, dan ikhlas yang disertai dengan niat untuk sebuah ibadah, maka itulahibadah. Sebaliknya, sebuah ibadah sekali pun, jika niatnya melenceng, malah bisa sia-sia atau tidak mendapatkan apapun kecuali apa yang diniatkannya dalam hati.
Jika niatnya untuk dipuji, maka itulah yang akan didapatkan. Jika niatnya untuk diketahui seperti pamer, riya', atau sum'ah, maka itu pulalah yang akan didapatkan dari niatnya itu. Bahkan, dalam ibadah shalat pun. Karena itu, perbaiki dan selalu perbarui niat, serta luruskan hanya semata-mata karena ALlah SWT. Dalam urusan pekerjaan sekali pun, jika diniatkan untuk ibadah, maka sejatinya itulah yang akan diperoleh dari amalannya.
Dalam pembukaan hadis Arbain karya An-Nawawi, disebutkan sabda Nabi mengenai urgensi niat.
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Perlu diperhatikan dari hadits di atas. Jika hijrah atau amal perbuatan kita memang ditujukan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, maka tujuan itu tak akan bisa meleset hanya tertuju kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, jika tujuan hijrah atau sebuah perbuatan hanya untukdunia, materi, atau uang, yang ingin diraih, maka hanya sampai pada tujuan tersebut.
Di sini bahkan sangat jelas. Disebutkan dalam redaksi hadits arabain pertama di atas, jika hijrah atau sebuah amalan memang hanya untuk seorangwanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya itu berartihanya sampaitujuannya untuk mendapatkan seorang wanita yang dimaksud. Jika demikian, di mana Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam hati kita?
Jika niatnya untuk dipuji, maka itulah yang akan didapatkan. Jika niatnya untuk diketahui seperti pamer, riya', atau sum'ah, maka itu pulalah yang akan didapatkan dari niatnya itu. Bahkan, dalam ibadah shalat pun. Karena itu, perbaiki dan selalu perbarui niat, serta luruskan hanya semata-mata karena ALlah SWT. Dalam urusan pekerjaan sekali pun, jika diniatkan untuk ibadah, maka sejatinya itulah yang akan diperoleh dari amalannya.
Dalam pembukaan hadis Arbain karya An-Nawawi, disebutkan sabda Nabi mengenai urgensi niat.
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Perlu diperhatikan dari hadits di atas. Jika hijrah atau amal perbuatan kita memang ditujukan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, maka tujuan itu tak akan bisa meleset hanya tertuju kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, jika tujuan hijrah atau sebuah perbuatan hanya untukdunia, materi, atau uang, yang ingin diraih, maka hanya sampai pada tujuan tersebut.
Di sini bahkan sangat jelas. Disebutkan dalam redaksi hadits arabain pertama di atas, jika hijrah atau sebuah amalan memang hanya untuk seorangwanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya itu berartihanya sampaitujuannya untuk mendapatkan seorang wanita yang dimaksud. Jika demikian, di mana Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam hati kita?