LANGIT7.ID - Ibadah adalah
amalan hati. Jika hati jernih, bersih, tulus, dan ikhlas yang disertai dengan niat untuk sebuah ibadah, maka itulah
ibadah. Sebaliknya, sebuah ibadah sekali pun, jika niatnya melenceng, malah bisa sia-sia atau tidak mendapatkan apapun kecuali apa yang diniatkannya dalam hati.
Jika niatnya untuk dipuji, maka itulah yang akan didapatkan. Jika niatnya untuk diketahui seperti pamer, riya', atau sum'ah, maka itu pulalah yang akan didapatkan dari niatnya itu. Bahkan, dalam ibadah shalat pun. Karena itu, perbaiki dan selalu perbarui niat, serta luruskan hanya semata-mata karena ALlah SWT. Dalam urusan pekerjaan sekali pun, jika diniatkan untuk ibadah, maka sejatinya itulah yang akan diperoleh dari amalannya.
Dalam pembukaan hadis Arbain karya An-Nawawi, disebutkan sabda Nabi mengenai urgensi niat.
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ.
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Perlu diperhatikan dari hadits di atas. Jika hijrah atau amal perbuatan kita memang ditujukan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, maka tujuan itu tak akan bisa meleset hanya tertuju kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, jika tujuan hijrah atau sebuah perbuatan hanya untuk dunia, materi, atau uang, yang ingin diraih, maka hanya sampai pada tujuan tersebut.
Di sini bahkan sangat jelas. Disebutkan dalam redaksi hadits arabain pertama di atas, jika hijrah atau sebuah amalan memang hanya untuk seorang wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya itu berarti hanya sampai tujuannya untuk mendapatkan seorang wanita yang dimaksud. Jika demikian, di mana Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam hati kita?
Hadits ini merupakan bagian dari dasar-dasar agama. Di samping itu, sebagai ungkapan Nabi yang ringkas dan komprehensif. Semua bab tentang hukum-hukum Islam, masuk dalam kategori hadis ini. Secara garis besar, hadits ini membahas bahwa amal kebaikan tergantung pada niat pelakunya, jika tujuannya ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya, maka amalnya akan tertuju kepada Allah. Namun, jika amalnya hanya untuk menggapai urusan dunia, maka dia hanya mendapat yang dia cari.
Banyak dari kalangan ulama Hadits yang mengawali karyanya dengan hadis ini, seperti Imam Bukhari. Tujuannya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Baṭṭal adalah sebagai komitmen bahwa beliau menulis kitab Shahih al-Bukhari itu niatnya hanya karena Allah.
Di samping itu, menjadi peringatan bagi setiap pembacanya agar berniat sebagaimana yang diniatkan oleh Imam Bukhari. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadis ini, yaitu:
1. Setiap amal yang tidak dilatari niat, maka tidak berkonsekuensi hukum.
2. Setiap ibadah dipersyarati niat.
3. Seorang hanya akan mendapatkan buah dari amal sesuai dengan yang diniatkan sejak awal.
4. Wajib Ikhlas beramal hanya untuk Allah semata.
5. Diharamkan beramal untuk kepentingan selain Allah (Syekh Abdurrahman, Al-Fawaa`id al-Mustanbathah min al-‘Arba’iin al-Nawawiyyah)
Sedangkan amalan praktis yang bisa dilakukan dalam sehari-hari berdasarkan hadits tersebut di antaranya:
1. Mendasari segenap aktivitas yang bernilai taqarrub dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali dengan niat ikhlas karena Allah.
2. Mengevaluasi keikhlasan amal setiap hari.
3.Agar ibadah tak menjadi sekadar formalitas, maka niat perlu diperbarui dengan penuh kesadaran.
4. Meyakini bahwa amal akan bernilai dahsyat jika berbasis niat.
5. Membersihkan segenap niat dari motif duniawi.
(jak)