Beda Prediksi Cuaca BMKG dan BRIN, Legislator Dorong Informasi Satu Pintu
Ummu hani
Rabu, 28 Desember 2022 - 16:02 WIB
Anggota Komisi V DPR RI, Suryadi Jaya Purnama. (Foto: DPR RI)
Anggota Komisi V DPR RI, Suryadi Jaya Purnama menyoroti perbedaan informasi terkait potensi cuaca ekstrem hingga badai yang disampaikan Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Suryadi menilai pemerintah perlu memberlakukan satu pintu bagi diseminasi informasi yang terukur tentang cuaca ekstrem, yaitu melalui BMKG sesuai UU Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. "Jangan sampai karena perbedaan informasi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," kata Suryadi dalam keterangannya, Rabu (28/12/2022).
Politisi Fraksi PKS itu turut mengapresiasi pemerintah terkait antisipasi terhadap cuaca ekstrem jelang akhir tahun. Hal itu seperti yang telah disampaikan pada saat Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI pada tanggal 13 Desember 2022 lalu.
Baca Juga:Beda dengan BRIN, BMKG Sebut Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Bukan Badai
"Kementerian PUPR, telah menyelesaikan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi sebagai bendungan kering yang berfungsi sebagai pengendali banjir. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas juga melaksanakan Siaga SAR Khusus Nataru 2023 di lokasi-lokasi strategis yang rawan kecelakaan/bencana," ujarnya.
Selain itu, Suryadi menyebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga berencana menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi potensi banjir akibat hujan ekstrem.
Suryadi menilai pemerintah perlu memberlakukan satu pintu bagi diseminasi informasi yang terukur tentang cuaca ekstrem, yaitu melalui BMKG sesuai UU Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. "Jangan sampai karena perbedaan informasi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," kata Suryadi dalam keterangannya, Rabu (28/12/2022).
Politisi Fraksi PKS itu turut mengapresiasi pemerintah terkait antisipasi terhadap cuaca ekstrem jelang akhir tahun. Hal itu seperti yang telah disampaikan pada saat Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI pada tanggal 13 Desember 2022 lalu.
Baca Juga:Beda dengan BRIN, BMKG Sebut Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Bukan Badai
"Kementerian PUPR, telah menyelesaikan Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi sebagai bendungan kering yang berfungsi sebagai pengendali banjir. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas juga melaksanakan Siaga SAR Khusus Nataru 2023 di lokasi-lokasi strategis yang rawan kecelakaan/bencana," ujarnya.
Selain itu, Suryadi menyebut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga berencana menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi potensi banjir akibat hujan ekstrem.