Banyak Muncul Ormas Islam di Indonesia, Ini Penyebabnya
Arif purniawan
Selasa, 03 Januari 2023 - 04:00 WIB
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng Dr KH Tafsir (foto: PWM Jateng)
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng Dr KH Tafsir mengatakan, pascawafatnya Nabi Muhammad SAW tidak ada pemimpin tunggal yang disepakati oleh seluruh umat Islam hingga saat ini.
Setelah masa kenabian dan kekhalifah usai, ada ulama-ulama besar seperti Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan Imam Malik yang masing-masing diikuti oleh umat. Hal itu terjadi karena sebelum adanya Shahih Bukhari, dan lainnya, belum ada kodifikasi dan formalisasi hadist.
“Sejak dahulu hingga sekarang, umat Islam tidak pernah menyepakati tafsir resmi (tunggal) yang dipedomani umat Islam. Maka, hal ini menjadi legitimasi mengapa kemudian hari ini di tubuh umat Islam ada berbagai macam paham agama,” ujar KH Tafsir dikutip dari PWM Jateng.
Baca juga:MUI Umumkan Adanya 2 Aliran Sesat di Sulawesi Selatan
Karena tidak ada pemimpin tunggal yang disepakati oleh seluruh umat Islam, sehingga munculnya organisasi masyarakat, organisasi keagaamaan, menjadi alternatif untuk mengkoordinir umat meskipun dengan keragaman fikih dalam banyak hal.
“Sehingga kalau tidak ada NU dan Muhammadiyah, bisa jadi umat Islam di Indonesia hanya akan diurusi oleh takmir masjid. Jika hanya diurusi oleh takmir masjid, maka tidak akan muncul Universitas Muhammadiyah, Rumah Sakit Muhammadiyah, dsb,” kata Kiai Tafsir.
Meski demikian, menurutnya adanya ijtihad Muhammadiyah tidak boleh dipergunakan untuk menyalahkan ijtihad NU, begitupun sebaliknya.
Setelah masa kenabian dan kekhalifah usai, ada ulama-ulama besar seperti Imam Syafii, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan Imam Malik yang masing-masing diikuti oleh umat. Hal itu terjadi karena sebelum adanya Shahih Bukhari, dan lainnya, belum ada kodifikasi dan formalisasi hadist.
“Sejak dahulu hingga sekarang, umat Islam tidak pernah menyepakati tafsir resmi (tunggal) yang dipedomani umat Islam. Maka, hal ini menjadi legitimasi mengapa kemudian hari ini di tubuh umat Islam ada berbagai macam paham agama,” ujar KH Tafsir dikutip dari PWM Jateng.
Baca juga:MUI Umumkan Adanya 2 Aliran Sesat di Sulawesi Selatan
Karena tidak ada pemimpin tunggal yang disepakati oleh seluruh umat Islam, sehingga munculnya organisasi masyarakat, organisasi keagaamaan, menjadi alternatif untuk mengkoordinir umat meskipun dengan keragaman fikih dalam banyak hal.
“Sehingga kalau tidak ada NU dan Muhammadiyah, bisa jadi umat Islam di Indonesia hanya akan diurusi oleh takmir masjid. Jika hanya diurusi oleh takmir masjid, maka tidak akan muncul Universitas Muhammadiyah, Rumah Sakit Muhammadiyah, dsb,” kata Kiai Tafsir.
Meski demikian, menurutnya adanya ijtihad Muhammadiyah tidak boleh dipergunakan untuk menyalahkan ijtihad NU, begitupun sebaliknya.