APPI Sebut Tak Ada Dasar Kuat PSSI Hentikan Liga 2
Fajar adhitya
Jum'at, 13 Januari 2023 - 19:46 WIB
Pemain liga 2 menyayangkan penghentian kompetisi Liga 2 (foto: PSCS Cilacap)
Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) menyayangkan PSSI menghentikan kompetisi lanjutan Liga 2. APPI menilai, keputusan federasi menghentikan Liga 2 berdasarkan kesepakatan sebagian besar klub anggota Liga 2 tidak disertai dengan alasan jelas.
Apalagi di dalamnya tidak ada skema antisipasi dan kompetisi yang disiapkan untuk mencegah terjadinya penghentian kompetisi ini. Dampak krusial terhentinya Liga 2 adalah roda ekonomi klub yang tak bisa berputar.
“Perlu digaris bawahi bahwa penghentian kompetisi Liga 2 2022/2023 bukanlah suatu Force Majeur atau Keadaaan Kahar baik menurut kontrak profesional, peraturan FIFA ataupun peraturan perundang-undangan di Indonesia,” dilansir pernyataan media APPI, Jumat (13/1/2023).
Baca juga:Persib Bandung Kecewa dengan Keputusan Pemberhentian Liga 2
Jika sebelumnya, pada saat penghentian kompetisi Liga 1 seluruh pihak sangat kompak menyuarakan bahwa “Sepakbola haruslah kembali demi banyak nasib dan kehidupan”, justru nasib dan kehidupan yang nyata adalah milik para pesepakbola yang bermain di Klub Liga 2 dan Liga 3. Para pesepakbola inilah yang jumlahnya jauh lebih banyak dan juga memiliki penghasilan/upah yang hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Penghentian Liga 2 dan Liga 3 musim kompetisi 2022/2023 dinilai merupakan suatu kemunduran bagi industri sepakbola di Indonesia. Ke depan, tentunya akan berimbas pada konsekuensi yang sangat kompleks, termasuk konsekuensi hukum yang tentunya akan ditempuh para pesepakbola.
“Terkait dengan status kontrak para Pesepakbola di Liga-2 dan Liga-3, karena penghentian kompetisi bukan disebabkan oleh Keadaan Kahar (Force Majeure), maka status kontrak tersebut tetaplah berlaku dan mengikat para pihak,” tulis APPI.
Apalagi di dalamnya tidak ada skema antisipasi dan kompetisi yang disiapkan untuk mencegah terjadinya penghentian kompetisi ini. Dampak krusial terhentinya Liga 2 adalah roda ekonomi klub yang tak bisa berputar.
“Perlu digaris bawahi bahwa penghentian kompetisi Liga 2 2022/2023 bukanlah suatu Force Majeur atau Keadaaan Kahar baik menurut kontrak profesional, peraturan FIFA ataupun peraturan perundang-undangan di Indonesia,” dilansir pernyataan media APPI, Jumat (13/1/2023).
Baca juga:Persib Bandung Kecewa dengan Keputusan Pemberhentian Liga 2
Jika sebelumnya, pada saat penghentian kompetisi Liga 1 seluruh pihak sangat kompak menyuarakan bahwa “Sepakbola haruslah kembali demi banyak nasib dan kehidupan”, justru nasib dan kehidupan yang nyata adalah milik para pesepakbola yang bermain di Klub Liga 2 dan Liga 3. Para pesepakbola inilah yang jumlahnya jauh lebih banyak dan juga memiliki penghasilan/upah yang hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Penghentian Liga 2 dan Liga 3 musim kompetisi 2022/2023 dinilai merupakan suatu kemunduran bagi industri sepakbola di Indonesia. Ke depan, tentunya akan berimbas pada konsekuensi yang sangat kompleks, termasuk konsekuensi hukum yang tentunya akan ditempuh para pesepakbola.
“Terkait dengan status kontrak para Pesepakbola di Liga-2 dan Liga-3, karena penghentian kompetisi bukan disebabkan oleh Keadaan Kahar (Force Majeure), maka status kontrak tersebut tetaplah berlaku dan mengikat para pihak,” tulis APPI.