Bukan Payas Agung, Fesyen yang Dikenakan Puan Tetap Dapat Pujian
Mahmuda attar hussein
Selasa, 24 Agustus 2021 - 12:11 WIB
Presiden Jokowi (kiri) dan Ketua DPR RI Puan Maharani (kanan) saat Sidang Tahunan MPR di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara, Senin (16/8/2021). Foto: Istimewa
Pakar busana Bali Anak Agung Ngurah Anom Mayun K Tenaya angkat bicara soal ragam pakaian adat yang digunakan petinggi negara. Menurutnya, pakaian adat yang dikenakan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani pada sidang paripurna DPR RI 16 Agustus 2021 bukanlah Payas Agung.
"Yang dipakai Puan adalah busana modifikasi madya. Hasil modifikasi rias Bali, bukan pakaian adat," kata Mayun yang juga akademisi Prodi Fashion Institut Seni Indonesia Denpasar, dalam keterangannya pada Selasa (24/8/2021).
Baca Juga:Pidato Tahunan Presiden: Keputusan Pemerintah Harus Merujuk Data dan Ilmu Pengetahuan
Mayun mengatakan, pakaian adat Payas Agung hanya boleh dikenakan saat pelaksanaan Upacara Manusia Yadnya Utama oleh kalangan tertentu. Alhasil, baju yang dikenakan putri Megawati itu bukanlah Payas Agung.
Meski demikian, Mayun memuji pilihan fesyen Puan di hari penting tersebut. "Perancang busana yang dikenakan Puan Maharani pada upacara kenegaraan 16 Agustus 2021 layak diacungi jempol, berani melakukan improvisasi, sehingga terkesan anggun bagi pemakainya," ungkapnya.
Puan, dianggapnya turut mengangkat kembali kebudayaan bangsa dengan mengenakan pakaian adat tersebut. "Punahnya kain-kain asli Bali akibat dari budaya masyarakat sendiri seperti penyederhanaan upacara, yang biasanya menggunakan kain-kain sakral, akhirnya ditiadakan," ucapnya.
Mayun yang kini sedang menempuh S3 dan meneliti berbagai jenis kain khas Bali itu mengapresiasi sentuhan budaya Indonesia dalam pakaian yang dikenakan Presiden Joko Widodo, Puan Maharani dan pejabat lainnya dalam acara kenegaraan. Senada dengan Mayun, Pengajar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi juga mengapresiasi pilihan busana para pemimpin bangsa mengenakan pakaian adat di acara kenegaraan karena bisa menjadi simbol keharmonisan.
"Yang dipakai Puan adalah busana modifikasi madya. Hasil modifikasi rias Bali, bukan pakaian adat," kata Mayun yang juga akademisi Prodi Fashion Institut Seni Indonesia Denpasar, dalam keterangannya pada Selasa (24/8/2021).
Baca Juga:Pidato Tahunan Presiden: Keputusan Pemerintah Harus Merujuk Data dan Ilmu Pengetahuan
Mayun mengatakan, pakaian adat Payas Agung hanya boleh dikenakan saat pelaksanaan Upacara Manusia Yadnya Utama oleh kalangan tertentu. Alhasil, baju yang dikenakan putri Megawati itu bukanlah Payas Agung.
Meski demikian, Mayun memuji pilihan fesyen Puan di hari penting tersebut. "Perancang busana yang dikenakan Puan Maharani pada upacara kenegaraan 16 Agustus 2021 layak diacungi jempol, berani melakukan improvisasi, sehingga terkesan anggun bagi pemakainya," ungkapnya.
Puan, dianggapnya turut mengangkat kembali kebudayaan bangsa dengan mengenakan pakaian adat tersebut. "Punahnya kain-kain asli Bali akibat dari budaya masyarakat sendiri seperti penyederhanaan upacara, yang biasanya menggunakan kain-kain sakral, akhirnya ditiadakan," ucapnya.
Mayun yang kini sedang menempuh S3 dan meneliti berbagai jenis kain khas Bali itu mengapresiasi sentuhan budaya Indonesia dalam pakaian yang dikenakan Presiden Joko Widodo, Puan Maharani dan pejabat lainnya dalam acara kenegaraan. Senada dengan Mayun, Pengajar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi juga mengapresiasi pilihan busana para pemimpin bangsa mengenakan pakaian adat di acara kenegaraan karena bisa menjadi simbol keharmonisan.