Jihad Oey Tjeng Hien Hapus Sekat antara Muslim dan Keturunan Tionghoa
Ummu hani
Jum'at, 20 Januari 2023 - 12:27 WIB
Oey Tjeng Hien atau Abdul Karim Oey, mualaf Tionghoa yang menjadi kader Muhammadiyah. Foto: Istimewa.
Oey Tjeng Hien atau Abdul Karim Oey dikenal sebagai bukti sejarah kedekatan Muhammadiyah dengan masyarakat Tionghoa. Oey Tjeng Hien tidak hanya berjihad menghapus sekat antara kelompok muslim dan keturunan Tionghoa, tapi juga berdiri tegak menentang penjajah bersama tokohMuhammadiyah, Mas Mansur, Soekarno dan Buya Hamka.
Oey Tjeng Hien lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 6 Juni 1905. Ia lahir di mana masih ada sekat sosial serius karena konsep satu bangsa belum sepenuhnya tumbuh.
Baca juga: PPP: KH Hasyim Asyari Harmonikan Islam dan Nasionalisme
Apalagi, dampak Regerings Reglement VOC sejak 1854 yang membagi secara yuridis penduduk Hindia Belanda berdasarkan etnis, yakni Europeanen (Eropa), Inlander (pribumi), dan Vreemde Oosterlingen (orang asing dariTionghoa, India, Timur Tengah). Hal tersebut semakin meruncingkan sekat sosial.
Sejak lahir, Oey Tjeng Hien hidup dalam bayang-bayang stereotip sebagai orang asing atau non-pribumi.
Melansir dari Suara Muhammadiyah, Jumat (20/1/2023) Pada usia 25 tahun, Oei memeluk Islam setelah mempelajari berbagai agama yang ada dengan melakukan studi perbandingan agama. Setelah masuk Islam, namanya dikenal sebagai Abdul Karim Oey.
Namun, keputusannya masuk Islam dibenci oleh keluarganya. Tak berdiam diri, setelah masuk Islam, Oey aktif memerjuangkan persatuan sangat luar biasa.
Oey Tjeng Hien lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 6 Juni 1905. Ia lahir di mana masih ada sekat sosial serius karena konsep satu bangsa belum sepenuhnya tumbuh.
Baca juga: PPP: KH Hasyim Asyari Harmonikan Islam dan Nasionalisme
Apalagi, dampak Regerings Reglement VOC sejak 1854 yang membagi secara yuridis penduduk Hindia Belanda berdasarkan etnis, yakni Europeanen (Eropa), Inlander (pribumi), dan Vreemde Oosterlingen (orang asing dariTionghoa, India, Timur Tengah). Hal tersebut semakin meruncingkan sekat sosial.
Sejak lahir, Oey Tjeng Hien hidup dalam bayang-bayang stereotip sebagai orang asing atau non-pribumi.
Melansir dari Suara Muhammadiyah, Jumat (20/1/2023) Pada usia 25 tahun, Oei memeluk Islam setelah mempelajari berbagai agama yang ada dengan melakukan studi perbandingan agama. Setelah masuk Islam, namanya dikenal sebagai Abdul Karim Oey.
Namun, keputusannya masuk Islam dibenci oleh keluarganya. Tak berdiam diri, setelah masuk Islam, Oey aktif memerjuangkan persatuan sangat luar biasa.