LANGIT7.ID - , Jakarta -
Oey Tjeng Hien atau Abdul Karim Oey dikenal sebagai bukti sejarah kedekatan Muhammadiyah dengan masyarakat Tionghoa. Oey Tjeng Hien tidak hanya berjihad menghapus sekat antara kelompok muslim dan keturunan Tionghoa, tapi juga berdiri tegak menentang penjajah bersama tokoh
Muhammadiyah, Mas Mansur, Soekarno dan Buya Hamka.
Oey Tjeng Hien lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 6 Juni 1905. Ia lahir di mana masih ada sekat sosial serius karena konsep satu bangsa belum sepenuhnya tumbuh.
Baca juga: PPP: KH Hasyim Asyari Harmonikan Islam dan NasionalismeApalagi, dampak Regerings Reglement VOC sejak 1854 yang membagi secara yuridis penduduk Hindia Belanda berdasarkan etnis, yakni Europeanen (Eropa), Inlander (pribumi), dan Vreemde Oosterlingen (orang asing dari
Tionghoa, India, Timur Tengah). Hal tersebut semakin meruncingkan sekat sosial.
Sejak lahir, Oey Tjeng Hien hidup dalam bayang-bayang stereotip sebagai orang asing atau non-pribumi.
Melansir dari Suara Muhammadiyah, Jumat (20/1/2023) Pada usia 25 tahun, Oei memeluk Islam setelah mempelajari berbagai agama yang ada dengan melakukan studi perbandingan agama. Setelah masuk Islam, namanya dikenal sebagai Abdul Karim Oey.
Namun, keputusannya masuk Islam dibenci oleh keluarganya. Tak berdiam diri, setelah masuk Islam, Oey aktif memerjuangkan persatuan sangat luar biasa.
Ia juga mendirikan dan menggerakkan beberapa organisasi lintas komunitas. Salah satunya Tionghoa Hiapsianghew dan Tanah Air Sendiri (TAS) yang mempererat persaudaraan dengan kelompok Inlander.
Tak lama setelah mualaf, Oey Tjeng Hien bergabung dengan Muhammadiyah. Ia merupakan kader Muhammadiyah sejati.
Baca juga: Kisah Nyai Sinta Jadi Tiang Gus Dur, Sempat Jualan Kacang dan Es LilinOey Tjeng Hien memelopori pendirian Muhammadiyah, pengkaderan, dan semua aktivitas pergerakan dengan biayanya sendiri. Oey pun menjabat sebagai ketua Konsul Muhammadiyah Bintuhan.
Di Muhammadiyah, Oey juga sempat menjabat sebagai Majelis Tanwir Muhammadiyah (1952–1973) dan Ketua Dewan Ekonomi Muhammadiyah (1964–1973).
Menjadi tokoh nasional, Oey berusaha menggunakan posisinya untuk merobohkan sekat di dalam bangsa Indonesia, yaitu antara kelompok keturunan dan kelompok pribumi (Islam).
Oey dikenal sebagai sosok yang dekat dengan Soekarno. Memiliki perusahaan yang maju, Oey sering melakukan perjalanan bisnis ke pulau Jawa.
Perjalanannya dimanfaatkannya untuk membeli buku-buku tentang Islam dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional, termasuk Soekarno.
Mengutip dari laman resmi Muhammadiyah, antara tahun 1930-1931, Oey bertemu Soekarno untuk pertama kali di Bandung ketika Presiden RI pertama itu sedang menjalani pengasingan di Penjara Sukamiskin. Pertemuan dan persahabatan dimulai ketika Soekarno dipindahkan dari pengasingannya dari Ende ke Bengkulu pada 1938.
Baca juga: Mengenang Sosok Gus Dur, Presiden RI ke-4 dengan Jabatan SingkatLebih jauh, Soekarno menganggap Oey tak sekadar teman, melainkan saudaranya. Oey memiliki andil besar dalam pernikahan antara putri Muhammadiyah, Fatmawati dengan Soekarno.
Kiprahnya dalam memersatukan bangsa seakan tak henti-hentinya. Oey Tjeng Hien menuturkan dalam otobiografinya, ia mendapat pesan khusus dari Adik Nyai Dahlan yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah, Kiai Ibrahim, untuk merangkul perbedaan di Indonesia.
Wasiat Kiai Ibrahim mendasari berdirinya Persatuan Islam Tionghoa (PIT) pada 1953. Dalam perjalanannya PIT melebur bersama Persatuan Muslim Tionghoa menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia pada 14 April 1961.
Didukung Buya Hamka, gerak PITI berhasil meluas memperkenalkan Islam di kalangan Tionghoa. Selain dakwah Islam, misi utama PITI adalah menyempitkan jarak sosial antara kelompok Tionghoa dan non-Tionghoa.
Oey juga dikenal sebagai tokoh dermawan. Alih-alih mengamankan bisnisnya yang telah berjaya sebagaimana pengusaha Tionghoa, Oey mendekati pemerintah Kolonial dan para ambtenaar.
Oey memilih memperjuangkan hartanya untuk membela kaum dhuafa setempat yang terperangkap oleh sistem ekspolitasi riba dan ijon. Oey mengisahkan dirinya kerap membantu para petani dengan pinjaman uang untuk keluar dari perangkap itu.
(est)