8 Sifat Pemimpin Ideal Menurut Cak Nun
Fajar adhitya
Ahad, 22 Januari 2023 - 09:15 WIB
8 Sifat Pemimpin Ideal Menurut Cak Nun. Foto: iStock.
Cendekiawan dan Budayawan Muslim, Emha Ainun Najib atau Cak Nun kerap mengkritik kepemimpinan Indonesia. Pemikirannnya soal kepemimpinan banyak diuraikan melalui esai-esai, buku, ceramah, maupun kesenian teater.
Saputra, Prayogi (2016) dalam Otentisitas Pemikiran Cak Nun dalam Riuh Pemikiran Islam Kontemporer menuliskan bahwa Cak Nun adalah cendekiawan muslim otodidak. Karenanya, pikiran-pikirannya terlihat unik bila ditinjau dari pakem akademisi maupun tradisi keilmuan kaum santri.
“Dalam pemikiran Cak Nun ditemukan hal-hal yang tak terduga dan mengejutkan. Terlebih pada orang yang terbiasa dengan konvensi-konvensi pemikiran dan organisasi Islam yang kaku,” tulis Prayogi, dikutip Ahad (22/1/2023).
Terdapat dua sosok utama dalam sejarah pembaharuan Islam di Indonesia, yakni Nurcholis Madjid atau Cak Nur sebagai representasi universitas dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kaum santri. Kedua sosok itu juga akrab dengan Cak Nun.
Baca Juga: Kisah Buya Hamka Diangkat ke Layar Lebar, Tayang Idul Fitri
Sementara Cak Nun adalah santri yang tidak lulus dari Pondok Pesantren Gontor, sempat mencicip sebagai anak kuliahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum akhirnya “terdampar” menjadi seniman Malioboro. Cak Nun kemudian belajar dengan Umbu Landu Paranggi dan tumbus sebagai seorang aktivis.
Hidayat, Gufron (2019) yang menganalisis pemikiran Cak Nun di laman Caknun.com mengenai kepemimpinan mengelompokkan tiga sudut pandang sifat-sifat pemimpin, yakni dari sisi agama, sosial, dan politik.
Saputra, Prayogi (2016) dalam Otentisitas Pemikiran Cak Nun dalam Riuh Pemikiran Islam Kontemporer menuliskan bahwa Cak Nun adalah cendekiawan muslim otodidak. Karenanya, pikiran-pikirannya terlihat unik bila ditinjau dari pakem akademisi maupun tradisi keilmuan kaum santri.
“Dalam pemikiran Cak Nun ditemukan hal-hal yang tak terduga dan mengejutkan. Terlebih pada orang yang terbiasa dengan konvensi-konvensi pemikiran dan organisasi Islam yang kaku,” tulis Prayogi, dikutip Ahad (22/1/2023).
Terdapat dua sosok utama dalam sejarah pembaharuan Islam di Indonesia, yakni Nurcholis Madjid atau Cak Nur sebagai representasi universitas dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kaum santri. Kedua sosok itu juga akrab dengan Cak Nun.
Baca Juga: Kisah Buya Hamka Diangkat ke Layar Lebar, Tayang Idul Fitri
Sementara Cak Nun adalah santri yang tidak lulus dari Pondok Pesantren Gontor, sempat mencicip sebagai anak kuliahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum akhirnya “terdampar” menjadi seniman Malioboro. Cak Nun kemudian belajar dengan Umbu Landu Paranggi dan tumbus sebagai seorang aktivis.
Hidayat, Gufron (2019) yang menganalisis pemikiran Cak Nun di laman Caknun.com mengenai kepemimpinan mengelompokkan tiga sudut pandang sifat-sifat pemimpin, yakni dari sisi agama, sosial, dan politik.