LANGIT7.ID, JAKARTA - Cendekiawan dan Budayawan Muslim, Emha Ainun Najib atau Cak Nun kerap mengkritik kepemimpinan Indonesia. Pemikirannnya soal kepemimpinan banyak diuraikan melalui esai-esai, buku, ceramah, maupun kesenian teater.
Saputra, Prayogi (2016) dalam Otentisitas Pemikiran Cak Nun dalam Riuh Pemikiran Islam Kontemporer menuliskan bahwa Cak Nun adalah cendekiawan muslim otodidak. Karenanya, pikiran-pikirannya terlihat unik bila ditinjau dari pakem akademisi maupun tradisi keilmuan kaum santri.
“Dalam pemikiran Cak Nun ditemukan hal-hal yang tak terduga dan mengejutkan. Terlebih pada orang yang terbiasa dengan konvensi-konvensi pemikiran dan organisasi Islam yang kaku,” tulis Prayogi, dikutip Ahad (22/1/2023).
Terdapat dua sosok utama dalam sejarah pembaharuan Islam di Indonesia, yakni Nurcholis Madjid atau Cak Nur sebagai representasi universitas dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari kaum santri. Kedua sosok itu juga akrab dengan Cak Nun.
Baca Juga: Kisah Buya Hamka Diangkat ke Layar Lebar, Tayang Idul FitriSementara Cak Nun adalah santri yang tidak lulus dari Pondok Pesantren Gontor, sempat mencicip sebagai anak kuliahan di Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum akhirnya “terdampar” menjadi seniman Malioboro. Cak Nun kemudian belajar dengan Umbu Landu Paranggi dan tumbus sebagai seorang aktivis.
Hidayat, Gufron (2019) yang menganalisis pemikiran Cak Nun di laman
Caknun.com mengenai kepemimpinan mengelompokkan tiga sudut pandang sifat-sifat pemimpin, yakni dari sisi agama, sosial, dan politik.
Secara umum, Cak Nun berpendapat bahwa pemimpin Indonesia harus memiliki sifat siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), fathonah (pandai), zuhud (tidak memikirkan hal duniawi), tidak mempunyai sikap yang mementingkan dirinya sendiri dan golongannya, tidak pernah takut kehilangan jabatannya, dan harus mempunyai program-program untuk masa depan Indonesia.
Berikut ringkasan delapan sifat pemimpin ideal menurut Cak Nun sebagaimana diuraikan Gufron:
1. Pemimpin harus selalu menghargai setiap pendapat dan siap dikritik oleh rakyatnya, bukan menjadi pemimpin yang otoriter.
2. Zuhud, yakni meninggalkan segala sesuatu yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.
3. Siddiq, yakni dimana setiap perkataan dan perbuatannya selalu mengandung kejujuran.
4. Amanah, yakni menjalankan kepemimpinannya dengan benar sesuai yang diamanatkan oleh rakyat Indonesia
5. Fathanah atau cerdas di mana pemimpin Indonesia harus memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam setiap mengambil keputusan dan membuat kebijakan.
6. Menyatunya pemimpin dengan rakyat. Artinya, jika pemimpin mencintai rakyatnya, maka juga mencintai penciptaNya, jika pemimpin menyakiti rakyatnya, maka itu akan menyakiti penciptaNya.
7. Muta’allimul ghaibiwas syahadah yaitu pemimpin yang selalu mempelajari tentang tindakan dan ruang lingkup kepemimpinannya
8. La takhaf wala tahzan, bahwa pemimpin Indonesia tidak akan takut akan kehilangan jabatannya.
Baca Juga: Prof AM Saefuddin Ungkap Penyebab Zionis Maju dan Umat Islam Mundur(zhd)