Bio Farma Butuh Sebulan Olah Bulk Jadi Vaksin Siap Suntik
Garry Talentedo Kesawa
Selasa, 24 Agustus 2021 - 19:55 WIB
Ilustrasi Analisa vaksin AstraZeneca di Laboratorium Pusat RND, Cambridge, Inggris Foto: AstraZeneca
PT Bio Farma (Persero) mengungkapkan selama ini harus berkejaran dengan waktu untuk menyiapkan hingga mendistribusikan vaksin. Ini lantaran pengolahan bahan baku (bulk) menjadi vaksin jadi, memerlukan waktu hingga satu bulan.
"Kalau bulk butuh proses, membutuhkan waktu sebulan untuk memulai dari proses bulk hingga produk jadi dan dikemas. Kami sangat butuh sekali, jadi kejar-kejaran antara waktu penggunaan dan waktu produksi," ujar juru bicara PT Bio Farma, Bambang Heriyanto dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa (24/8).
Bambang mengatakan, Bio Farma selaku penyedia dan pendistribusi vaksin memang mendapatkan vaksin dalam bentuk bulk maupun produk jadi. Saat dimulai proses produksi bulk ke bentuk jadi mesti melewati beberapa tahapan.
Proses dimulai sejak karantina bahan baku datang khususnya jenis Sinovac, dilanjutkan dengan fill and finish di Bio Farma, lalu uji mutu hingga didistribusikan ke seluruh wilayah di Indonesia.
Ia menyatakan Bio Farma terbantu dengan kombinasi kedatangan vaksin, yakni saat vaksin bentuk jadi didistribusikan berbarengan dengan produksi bulk. Dengan begitu, rentang waktu bisa dimanfaatkan untuk menutupi stok yang tersedia.
"Sehingga kekurangan karena menunggu waktu produksi bisa terkejar dengan keberdaan vaksin siap digunakan. Tapi tentunya vaksin jadi harus tetap menunggu LOT rilis dari BPOM sebelum didistribusikan," kata dia.
Bambang mengatakan, saat ini Bio Farma telah memiliki dua fasilitas khusus untuk proses produksi bulk ke bentuk jadi. Bio Farma dapat menampung 250 juta kapasitas vaksin dari dua fasilitas itu yang telah memenuhi kualifikasi dari BPOM dan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
"Kalau bulk butuh proses, membutuhkan waktu sebulan untuk memulai dari proses bulk hingga produk jadi dan dikemas. Kami sangat butuh sekali, jadi kejar-kejaran antara waktu penggunaan dan waktu produksi," ujar juru bicara PT Bio Farma, Bambang Heriyanto dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa (24/8).
Bambang mengatakan, Bio Farma selaku penyedia dan pendistribusi vaksin memang mendapatkan vaksin dalam bentuk bulk maupun produk jadi. Saat dimulai proses produksi bulk ke bentuk jadi mesti melewati beberapa tahapan.
Proses dimulai sejak karantina bahan baku datang khususnya jenis Sinovac, dilanjutkan dengan fill and finish di Bio Farma, lalu uji mutu hingga didistribusikan ke seluruh wilayah di Indonesia.
Ia menyatakan Bio Farma terbantu dengan kombinasi kedatangan vaksin, yakni saat vaksin bentuk jadi didistribusikan berbarengan dengan produksi bulk. Dengan begitu, rentang waktu bisa dimanfaatkan untuk menutupi stok yang tersedia.
"Sehingga kekurangan karena menunggu waktu produksi bisa terkejar dengan keberdaan vaksin siap digunakan. Tapi tentunya vaksin jadi harus tetap menunggu LOT rilis dari BPOM sebelum didistribusikan," kata dia.
Bambang mengatakan, saat ini Bio Farma telah memiliki dua fasilitas khusus untuk proses produksi bulk ke bentuk jadi. Bio Farma dapat menampung 250 juta kapasitas vaksin dari dua fasilitas itu yang telah memenuhi kualifikasi dari BPOM dan sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).