LP3ES: Songsong Abad Kedua NU sebagai Gerakan Pemikiran dan Ekonomi
Fajar adhitya
Rabu, 08 Februari 2023 - 14:39 WIB
Resepsi Puncak 1 Abad NU berlangsung meriah di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/2/2023). Foto: Instagram/@nahdlatululama.
Nahdlatul Ulama (NU) telah menjalani 100 tahun pengabdian untuk agama dan negara. Resepsi Puncak 1 Abad NU berlangsung meriah di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/2/2023).
Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta Abdul Hamid mengatakan, kini NU perlu melakukan lompatan jauh ke depan dan melakukan gerakan kembali ke Khittah kedua.
Baca juga: Azzam Nur Mu’jizat, Santri Tunanetra Pelantun Salawat Asyghil di 1 Abad NU
Gus Hamid menilai apa saja yang telah dihikmadkan NU kepada umat dan bangsa sulit dirinci secara detil. Hal ini bukan karena tidak ada catatan sejarahnya, tetapi keterlibatannya dalam perjuangan membentuk, mendirikan, dan menegakkan kemerdekaan, telah cukup menjadi bukti bahwa NU sangat berdedikasi.
Dalam perjalanannya, NU pun senantiasa berselancar di atas gelombang perubahan. Pesantren sebagai pilar NU sejak dekade 1970-an berkembang dalam wajahnya yang makin kompleks, tidak lagi monolit, yakni wajah salaf.
“Pesantren kholaf (modern) tumbuh di mana-mana dengan berbagai wajah dan institusi-institusi pendidikan yang dikembangkannya. NU pun telah banyak mendirikan universitas, dan banyak pula pesantren hingga memiliki jenjang pendidikan tinggi universitas,” kata Gus Hamid dalam keterangan tertulis, Rabu (8/2/2023).
Menurut Gus Hamid, dekade tersebut adalah awal dimulainya urbanisasi kaum santri. Tiga dekade setelahnya, modernisasi pemikiran itu berimbas pada tumbuhnya kalangan profesionalitas dan cendekia dari kalangan Nahdliyin.
Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta Abdul Hamid mengatakan, kini NU perlu melakukan lompatan jauh ke depan dan melakukan gerakan kembali ke Khittah kedua.
Baca juga: Azzam Nur Mu’jizat, Santri Tunanetra Pelantun Salawat Asyghil di 1 Abad NU
Gus Hamid menilai apa saja yang telah dihikmadkan NU kepada umat dan bangsa sulit dirinci secara detil. Hal ini bukan karena tidak ada catatan sejarahnya, tetapi keterlibatannya dalam perjuangan membentuk, mendirikan, dan menegakkan kemerdekaan, telah cukup menjadi bukti bahwa NU sangat berdedikasi.
Dalam perjalanannya, NU pun senantiasa berselancar di atas gelombang perubahan. Pesantren sebagai pilar NU sejak dekade 1970-an berkembang dalam wajahnya yang makin kompleks, tidak lagi monolit, yakni wajah salaf.
“Pesantren kholaf (modern) tumbuh di mana-mana dengan berbagai wajah dan institusi-institusi pendidikan yang dikembangkannya. NU pun telah banyak mendirikan universitas, dan banyak pula pesantren hingga memiliki jenjang pendidikan tinggi universitas,” kata Gus Hamid dalam keterangan tertulis, Rabu (8/2/2023).
Menurut Gus Hamid, dekade tersebut adalah awal dimulainya urbanisasi kaum santri. Tiga dekade setelahnya, modernisasi pemikiran itu berimbas pada tumbuhnya kalangan profesionalitas dan cendekia dari kalangan Nahdliyin.