LANGIT7.ID - , Jakarta - Nahdlatul Ulama (NU) telah menjalani 100 tahun pengabdian untuk agama dan negara. Resepsi Puncak
1 Abad NU berlangsung meriah di Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (7/2/2023).
Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (
LP3ES) Jakarta Abdul Hamid mengatakan, kini NU perlu melakukan lompatan jauh ke depan dan melakukan gerakan kembali ke Khittah kedua.
Baca juga: Azzam Nur Mu’jizat, Santri Tunanetra Pelantun Salawat Asyghil di 1 Abad NUGus Hamid menilai apa saja yang telah dihikmadkan NU kepada umat dan bangsa sulit dirinci secara detil. Hal ini bukan karena tidak ada catatan sejarahnya, tetapi keterlibatannya dalam perjuangan membentuk, mendirikan, dan menegakkan kemerdekaan, telah cukup menjadi bukti bahwa NU sangat berdedikasi.
Dalam perjalanannya, NU pun senantiasa berselancar di atas gelombang perubahan. Pesantren sebagai pilar NU sejak dekade 1970-an berkembang dalam wajahnya yang makin kompleks, tidak lagi monolit, yakni wajah salaf.
“Pesantren kholaf (modern) tumbuh di mana-mana dengan berbagai wajah dan institusi-institusi pendidikan yang dikembangkannya. NU pun telah banyak mendirikan universitas, dan banyak pula pesantren hingga memiliki jenjang pendidikan tinggi universitas,” kata Gus Hamid dalam keterangan tertulis, Rabu (8/2/2023).
Menurut Gus Hamid, dekade tersebut adalah awal dimulainya urbanisasi kaum santri. Tiga dekade setelahnya, modernisasi pemikiran itu berimbas pada tumbuhnya kalangan profesionalitas dan cendekia dari kalangan Nahdliyin.
Baca juga: Hidayat Nur Wahid dan PKS Jatim Apresiasi Peran NU untuk NKRI“Terutama sejak dekade 1990-an, adalah terjadinya gelombang besar sarjana NU dari berbagai disiplin ilmu,” kata Gus Hamid.
Dia melanjutkan, wajah generasi NU pun berubah, tidak lagi hanya dipenuhi kaum kiyai dan ustadz-ustadz di kampung. KH Wahab Hasbullah sempat mengibaratkan bahwa "mencari insinyur di NU seperti mencari pedagang es lilin di tengah malam".
“Tetapi kini, dalam jumlah yang hampir sama besarnya, bahkan lebih besar, adalah terdiri dari golongan profesional, dari peneliti, akademisi, politisi, hingga bisnismen,” imbuhnya.
Kekuatan-kekuatan baru yang tumbuh dari "tanah" NU itu, kata Gus Hamid, jelas memerlukan ruang eksistensi dan kiprah baru. Dengan demikian, menurutnya bahwa NU perlu melakukan lompatan jauh ke depan, melakukan gerakan kembali ke Khittah kedua.
“Jika pada Khittah pertama adalah menarik NU dari jambangan politik, maka kembali ke Khittah kedua adalah untuk mendigdayakan NU sebagai gerakan pemikiran dan ekonomi, sebagaimana visi Taswirul Afkar dan Nahdlatut-Tujjar yang merupakan embrio dan energi inti berdirinya NU, dan inilah tuntutan peran masa depan NU,” urainya.
Baca juga: Saling Dukung, Muhammadiyah Sediakan Tenaga Medis di Harlah 1 Abad NUKini usia NU telah genap satu abad, menyusul usia saudara-saudara tuanya, Jam'iyatul Khair (1901), Perserikatan Ulama (1911), Muhammadiyah (1912), Sarikat Islam (1912), Al-Irsyad (1914), Mathlaul Anwar (1916), Persatuan Islam, dan beberapa lainnya.
Dalam perjalanan panjang itu, meskipun berdiri agak belakangan, NU tumbuh menjadi organisasi terbesar bersama Muhammadiyah.
Ada unsur dinamik dan "kekekalan" di dalam NU yang memungkinkan organisasi kaum sarungan ini berhasil tumbuh sedemikian rupa dan memiliki pengikut paling besar.
(est)