Fikih Peradaban NU: Dukung PBB Wujudkan Perdamaian Dunia
Muhajirin
Rabu, 08 Februari 2023 - 22:00 WIB
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Foto: Istimewa)
Muktamar Internasional Fikih Peradaban I yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuahkan sejumlah rekomendasi. Muktamar tersebut menolak negara dengan sistem khilafah dan mendukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta Piagam PBB.
Muktamar yang dihadiri 15 pakar sebagai pembiacara kunci itu digelar di Hotel Shangri-La, Surabaya pada Senin (6/2/2023). Piagam tersebut dibacakan oleh KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dan Yenny Wahid di acara Puncak Resepsi Harlah 1 Abad NU yang digelar di Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023).
Berikut teks lengkap rekomendasi Muktamar Internasional Fikih Peradaban I:
Baca Juga:Lagu Ulama Bergerak Kado Spesial Slank 1 Abad NU, Ini Liriknya
Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa pandangan lama yang berakar pada tradisi fikih klasik, yaitu adanya cita-cita untuk menyatukan umat Islam di bawah naungan tunggal sedunia atau negara khilafah harus digantikan dengan visi baru demi mewujudkan kemaslahatan umat.
Cita-cita mendirikan kembali negara khilafah yang dianggap bisa menyatukan umat Islam sedunia, namun dalam hubungan berhadap-hadapan dengan non-Muslim bukanlah hal yang pantas diusahakan dan dijadikan sebagai aspirasi.
Muktamar yang dihadiri 15 pakar sebagai pembiacara kunci itu digelar di Hotel Shangri-La, Surabaya pada Senin (6/2/2023). Piagam tersebut dibacakan oleh KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dan Yenny Wahid di acara Puncak Resepsi Harlah 1 Abad NU yang digelar di Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023).
Berikut teks lengkap rekomendasi Muktamar Internasional Fikih Peradaban I:
Baca Juga:Lagu Ulama Bergerak Kado Spesial Slank 1 Abad NU, Ini Liriknya
Nahdlatul Ulama berpandangan bahwa pandangan lama yang berakar pada tradisi fikih klasik, yaitu adanya cita-cita untuk menyatukan umat Islam di bawah naungan tunggal sedunia atau negara khilafah harus digantikan dengan visi baru demi mewujudkan kemaslahatan umat.
Cita-cita mendirikan kembali negara khilafah yang dianggap bisa menyatukan umat Islam sedunia, namun dalam hubungan berhadap-hadapan dengan non-Muslim bukanlah hal yang pantas diusahakan dan dijadikan sebagai aspirasi.