Tips Menulis Buku Best-Seller Ala Novelis Ahmad Fuadi
Muhajirin
Senin, 20 Februari 2023 - 18:00 WIB
Novelis, Ahmad Fuadi (Foto: Istimewa)
Indonesia sebenarnya tidak memiliki standar khusus untuk sebuah buku bisa dikategorikan best-seller. Standar itu berbeda-beda tergantung penerbit. Penerbit Gramedia, terjual tiga bulan pertama tiga ribu eksemplar dan cetak ulang sudah dinyatakan best-seller.
Akan tetapi, Novelis Ahmad Fuadi menegaskan, best-seller bukan tujuan utama seorang penulis. Best-seller hanya bonus dan akibat. Best-seller bisa dipersiapkan, tetapi tidak bisa dipastikan.
Menurut Fuadi ada beberapa yang menyebabkan sebuah buku bisa best-seller. Pertama, kualitas, yang terfokus pada tulisan, cerita, dan bisa juga tampilan. Kualitas sangat penting, karena itu yang bersifat abadi di tangan pembaca.
Baca Juga:Alumni Gontor: Keluarga AM Wajib Dibantu Mendapat Keadilan
Kedua, kebaruan. Kebaruan adalah tidak harus benar-benar baru. Kebaruan bisa saja sudah ada sebelumnya, tapi penulis bisa melihat dari sudut yang berbeda. Bisa juga menceritakan dengan cara berbeda. Maka, itu harus sering melihat kondisi perbukuan di Indonesia.
“Tidak ada yang baru di bawah matahari ini, hampir semua sudah dibikin orang. jadi, tidak ada yang benar-benar baru,” kata Fuadi dalam webinar yang digelar PGRI, Senin (20/2/2023).
Ketiga, follow-up. Terkadang penulis menganggap sebuah buku sudah selesai jika sudah sudah diterbitkan oleh penerbit buku. Menurut Fuadi, hal tersebut tidak cukup di era lalu lintas informasi saat ini.
Akan tetapi, Novelis Ahmad Fuadi menegaskan, best-seller bukan tujuan utama seorang penulis. Best-seller hanya bonus dan akibat. Best-seller bisa dipersiapkan, tetapi tidak bisa dipastikan.
Menurut Fuadi ada beberapa yang menyebabkan sebuah buku bisa best-seller. Pertama, kualitas, yang terfokus pada tulisan, cerita, dan bisa juga tampilan. Kualitas sangat penting, karena itu yang bersifat abadi di tangan pembaca.
Baca Juga:Alumni Gontor: Keluarga AM Wajib Dibantu Mendapat Keadilan
Kedua, kebaruan. Kebaruan adalah tidak harus benar-benar baru. Kebaruan bisa saja sudah ada sebelumnya, tapi penulis bisa melihat dari sudut yang berbeda. Bisa juga menceritakan dengan cara berbeda. Maka, itu harus sering melihat kondisi perbukuan di Indonesia.
“Tidak ada yang baru di bawah matahari ini, hampir semua sudah dibikin orang. jadi, tidak ada yang benar-benar baru,” kata Fuadi dalam webinar yang digelar PGRI, Senin (20/2/2023).
Ketiga, follow-up. Terkadang penulis menganggap sebuah buku sudah selesai jika sudah sudah diterbitkan oleh penerbit buku. Menurut Fuadi, hal tersebut tidak cukup di era lalu lintas informasi saat ini.