Perbedaan Muhammadiyah-NU Terkikis dengan Pemahaman Adil dan Berimbang
Mahmuda attar hussein
Senin, 20 Februari 2023 - 23:40 WIB
Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) tampak kompak saat mengikuti kegiatan Isra Miraj. (Foto: Dok. Muhammadiyah)
Dua organisasi Islam terbesar di Tanah Air, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), tampak selaras saat melangsungkan kegiatan Isra Mi'raj. Kegiatan yang diselenggarakan di SMK Muhammadiyah Gunem, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, pada Sabtu (18/2) turut dihadiri pengurus NU.
Dalam acara Isra Mi'raj Muhammadiyah itu, turut hadir antara lain Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Gunem, KH Ismangun dan Ketua Pengurus Anam Cabang (PAC) Ansor Gunem, Abdul Jamil.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, KH Tafsir mengatakan, setiap perbedaan antara Muhammadiyah dan NU bisa dijembatani melalui penjelasan yang adil dan imbang. Sehingga antara kedua organisasi Islam terbesar di Tanah Air itu bisa saling memahami dan mengetahui alasan di balik perbedaan tersebut.
Baca Juga:Geliat Majelis Taklim di Indonesia, Sudah Ada Sejak Era Walisongo
"Semua bisa dijembatani lewat penjelasan yang adil dan imbang. Lantas keduanya bisa saling bisa memahami dari penjelasan tersebut," kata Tafsir seperti dikutip dari laman Muhammadiyah, Senin (20/2/2023).
Sementara itu, Ketua Pimpinan Muhammadiyah Rembang, Mohammad Ansori menambahkan, momen kebersamaan antara NU dan Muhammadiyah memang jarang terjadi. Terutama di Kabupaten Rembang sendiri.
Untuk itu, dia berharap agar momen kebersamaan dan pemahaman antara Muhammadiyah dan NU bisa lebih sering dilakukan. Seperti yang sering dilakukan oleh angkatan muda IPM dan IPNU.
Dalam acara Isra Mi'raj Muhammadiyah itu, turut hadir antara lain Ketua Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Gunem, KH Ismangun dan Ketua Pengurus Anam Cabang (PAC) Ansor Gunem, Abdul Jamil.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, KH Tafsir mengatakan, setiap perbedaan antara Muhammadiyah dan NU bisa dijembatani melalui penjelasan yang adil dan imbang. Sehingga antara kedua organisasi Islam terbesar di Tanah Air itu bisa saling memahami dan mengetahui alasan di balik perbedaan tersebut.
Baca Juga:Geliat Majelis Taklim di Indonesia, Sudah Ada Sejak Era Walisongo
"Semua bisa dijembatani lewat penjelasan yang adil dan imbang. Lantas keduanya bisa saling bisa memahami dari penjelasan tersebut," kata Tafsir seperti dikutip dari laman Muhammadiyah, Senin (20/2/2023).
Sementara itu, Ketua Pimpinan Muhammadiyah Rembang, Mohammad Ansori menambahkan, momen kebersamaan antara NU dan Muhammadiyah memang jarang terjadi. Terutama di Kabupaten Rembang sendiri.
Untuk itu, dia berharap agar momen kebersamaan dan pemahaman antara Muhammadiyah dan NU bisa lebih sering dilakukan. Seperti yang sering dilakukan oleh angkatan muda IPM dan IPNU.