Jangan Cuma Rutinitas, Puasa Ramadhan Harus Bawa Perubahan
Muhajirin
Jum'at, 24 Maret 2023 - 23:00 WIB
Ilustrasi dekorasi Ramadhan. Foto: Langit7/iStock.
Sekretaris PP Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, mengajak umat Islam agar tidak memaknai puasa Ramadhan sebatas rutinitas tahunan saja. Puasa Ramadhan harus membawa perubahan positif pada setiap muslim.
“Ramadhan harus menjadi puasa dan spiritualitas yang konstruktif, yang membangun. Karena ada fenomena di mana Ramadhan sering menjadi bulan spiritualitas yang fatalistis. Di mana di bulan Ramadhan kita sering dibawa pada kehidupan spiritual yang tidak produktif atau tidak menggerakkan kita untuk melakukan perubahan yang transformatif,” kata Abdul Mu’ti di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dikutip Jumat (24/3/2023).
Baca juga: Abdul Muti: Masjid Tonggak Pembangunan Bangsa
Abdul Mu'ti membeberkan tentang nilai-nilai puasa dan kemuliaan bulan suci Ramadan yang dapat diubah menjadi spiritualitas yang konstruktif. Ada beberapa hal yang perlu dipahami untuk mencapai hal ini.
Pertama, puasa harus dipahami sebagai upaya untuk mengendalikan diri dari segala sesuatu. Hal ini berasal dari kesadaran internal untuk senantiasa patuh pada perintah Allah dan menyadari bahwa setiap perbuatan dipantau oleh Allah SWT.
Substansi puasa adalah pengendalian diri yang berasal dari dalam, bukan dari luar. Maka itu, orang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri tanpa bergantung pada kontrol dari orang lain. Dalam hadis, makna puasa disebut sebagai Junnah atau tameng.
“Ada atau tidaknya orang yang mengontrol kita, maka kita tetap tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Ada atau tidak ada reward, kita akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya,” ujar Mu’ti.
“Ramadhan harus menjadi puasa dan spiritualitas yang konstruktif, yang membangun. Karena ada fenomena di mana Ramadhan sering menjadi bulan spiritualitas yang fatalistis. Di mana di bulan Ramadhan kita sering dibawa pada kehidupan spiritual yang tidak produktif atau tidak menggerakkan kita untuk melakukan perubahan yang transformatif,” kata Abdul Mu’ti di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dikutip Jumat (24/3/2023).
Baca juga: Abdul Muti: Masjid Tonggak Pembangunan Bangsa
Abdul Mu'ti membeberkan tentang nilai-nilai puasa dan kemuliaan bulan suci Ramadan yang dapat diubah menjadi spiritualitas yang konstruktif. Ada beberapa hal yang perlu dipahami untuk mencapai hal ini.
Pertama, puasa harus dipahami sebagai upaya untuk mengendalikan diri dari segala sesuatu. Hal ini berasal dari kesadaran internal untuk senantiasa patuh pada perintah Allah dan menyadari bahwa setiap perbuatan dipantau oleh Allah SWT.
Substansi puasa adalah pengendalian diri yang berasal dari dalam, bukan dari luar. Maka itu, orang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri tanpa bergantung pada kontrol dari orang lain. Dalam hadis, makna puasa disebut sebagai Junnah atau tameng.
“Ada atau tidaknya orang yang mengontrol kita, maka kita tetap tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Ada atau tidak ada reward, kita akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya,” ujar Mu’ti.