LANGIT7.ID, - Jakarta - Sekretaris PP Muhammadiyah,
Prof Abdul Mu’ti, mengajak umat Islam agar tidak memaknai
puasa Ramadhan sebatas rutinitas tahunan saja. Puasa Ramadhan harus membawa perubahan positif pada setiap muslim.
“Ramadhan harus menjadi puasa dan spiritualitas yang konstruktif, yang membangun. Karena ada fenomena di mana Ramadhan sering menjadi bulan spiritualitas yang fatalistis. Di mana di
bulan Ramadhan kita sering dibawa pada kehidupan spiritual yang tidak produktif atau tidak menggerakkan kita untuk melakukan perubahan yang transformatif,” kata Abdul Mu’ti di Universitas Muhammadiyah Jakarta, dikutip Jumat (24/3/2023).
Baca juga: Abdul Muti: Masjid Tonggak Pembangunan BangsaAbdul Mu'ti membeberkan tentang nilai-nilai puasa dan kemuliaan bulan suci Ramadan yang dapat diubah menjadi spiritualitas yang konstruktif. Ada beberapa hal yang perlu dipahami untuk mencapai hal ini.
Pertama, puasa harus dipahami sebagai upaya untuk mengendalikan diri dari segala sesuatu. Hal ini berasal dari kesadaran internal untuk senantiasa patuh pada perintah Allah dan menyadari bahwa setiap perbuatan dipantau oleh Allah SWT.
Substansi puasa adalah pengendalian diri yang berasal dari dalam, bukan dari luar. Maka itu, orang harus dapat mengendalikan dirinya sendiri tanpa bergantung pada kontrol dari orang lain. Dalam hadis, makna puasa disebut sebagai Junnah atau tameng.
“Ada atau tidaknya orang yang mengontrol kita, maka kita tetap tidak melakukan sesuatu yang dilarang. Ada atau tidak ada
reward, kita akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya,” ujar Mu’ti.
Baca juga: Abdul Muti: Gagasan Childfree tak Sesuai Konteks Indonesia dan Ajaran IslamKedua, puasa seharusnya membuat manusia mencukupkan diri dan menahan sifat alamiahnya untuk melampaui batas. Puasa dilakukan untuk menahan kecenderungan untuk mendapatkan kepuasan dengan memiliki segala sesuatu yang diinginkan.
Orang harus belajar untuk menahan kecenderungan untuk memperoleh kekayaan dan kekuasaan dengan cara yang batil, seperti pencurian, ghasab (merampas), menyuap, korupsi, dan sejenisnya.
“Bahkan orang itu menggunakan hartanya itu untuk menyuap hakim, membawa ke persoalan legal hukum untuk melindungi kebatilannya. Jadi, seakan-akan tidak salah secara legal, tapi sesungguhnya menyalahi,” ujar Mu’ti.
Puasa diharapkan dapat membimbing manusia pada perubahan yang sejati dan mengembangkan kesadaran internal dan sifat ihsan. Dengan begitu, manusia akan senantiasa jujur dalam setiap kondisi yang dilakukannya.
“Inilah yang saya maksud sebagai transformatif sebagai orang yang bisa menahan diri dan senantiasa jujur dalam setiap kondisi apapun yang kita lakukan,” tutur Mu’ti.
Baca juga: Beda dengan Parpol, Muhammadiyah Usulkan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup(est)