Kehadiran AI Diklaim Ubah Peradaban Manusia dalam Jangka Panjang
Fajar adhitya
Ahad, 26 Maret 2023 - 12:00 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Artificial Intelligence (AI) menjadi gempita baru dengan munculnya ChatGPT. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kecerdasan Artificial dan Keamanan Siber (PR KAKS) turut melaksanakan riset mengenai salah satu aplikasi AI ini.
Kepala PR KAKS BRIN Anto Satriyo Nugroho mengatakan, AI akan berpengaruh dalam mengubah peradaban manusia. Tetapi, tidak dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang.
Menurutnya, banyak pekerjaan manusia yang akan tergantikan meskipun tidak semua. Oleh karena itu, manusia perlu tekun, belajar, melakukan penelitian supaya inovasi dan penelitian selalu meningkat dan terus berkembang karena motornya adalah manusia.
Baca Juga:Filsafat UGM-UNESCO Rancang Pedoman Etis Pemanfaatan AI
"AI adalah bagaimana sistem mampu menafsirkan data eksternal secara benar untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakannya untuk pembelajaran, agar tercapai tugas tertentu secara optimal, serta memiliki kemampuan adaptasi yang fleksibel," ujarnya pada Bincang Sains Kawasan Bandung Garut (Bisaan Bangga) live di YouTube BRIN Indonesia, dikutip Ahad (26/3/2023).
Anto mengungkapkan, AI memiliki cakupan yang sangat luas, seperti machine learning, problem solving, knowledge listening and planning, knowledge, communicating, and acting. Sedangkan di BRIN hanya satu bagian yang diteliti.
Dia menjelaskan, sistem yang memakai AI akurasinya sangat beragam. "Contoh dari tulisan Jepang kolaborasi dengan PT. Sanyo, akurasi dari sistem yang mampu mengenali tulisan tangan seseorang yang berupa angka 0-9 dipakai pada facsimile, akurasinya sekitar 99 persen," ungkap Anto.
Kepala PR KAKS BRIN Anto Satriyo Nugroho mengatakan, AI akan berpengaruh dalam mengubah peradaban manusia. Tetapi, tidak dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang.
Menurutnya, banyak pekerjaan manusia yang akan tergantikan meskipun tidak semua. Oleh karena itu, manusia perlu tekun, belajar, melakukan penelitian supaya inovasi dan penelitian selalu meningkat dan terus berkembang karena motornya adalah manusia.
Baca Juga:Filsafat UGM-UNESCO Rancang Pedoman Etis Pemanfaatan AI
"AI adalah bagaimana sistem mampu menafsirkan data eksternal secara benar untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakannya untuk pembelajaran, agar tercapai tugas tertentu secara optimal, serta memiliki kemampuan adaptasi yang fleksibel," ujarnya pada Bincang Sains Kawasan Bandung Garut (Bisaan Bangga) live di YouTube BRIN Indonesia, dikutip Ahad (26/3/2023).
Anto mengungkapkan, AI memiliki cakupan yang sangat luas, seperti machine learning, problem solving, knowledge listening and planning, knowledge, communicating, and acting. Sedangkan di BRIN hanya satu bagian yang diteliti.
Dia menjelaskan, sistem yang memakai AI akurasinya sangat beragam. "Contoh dari tulisan Jepang kolaborasi dengan PT. Sanyo, akurasi dari sistem yang mampu mengenali tulisan tangan seseorang yang berupa angka 0-9 dipakai pada facsimile, akurasinya sekitar 99 persen," ungkap Anto.