Tasawuf Bisa Jadi Solusi Penyelamatan Kerusakan Lingkungan
Fajar adhitya
Selasa, 28 Maret 2023 - 19:00 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Prof Bambang Irawan menyebut kerusakan lingkungan terjadi karena manusia memandang alam sebagai objek. Alam hanya dipandang sebagai benda dan dieskploitasi untuk mencapai tujuan manusia.
Menurutnya, kerusakan lingkungan lahir dari krisis spiritual dan agama, di mana masyarakat modern menempatkan alam sebagai objek yang tidak memiliki nilai sakral dan terpisah dari keberadaan Tuhan. Karenanya, perlu penumbuhan perspektif sufistik berkesadaran lingkungan dalam mengerem hasrat eksploitatif manusia terhadap alam.
Baca juga: Memahami Tasawuf, Jalan Hamba Mendekat pada Sang Pencipta
Bambang menilai, kerusakan lingkungan tidak cukup diatasi dengan pendekatan normatif dan teknologi. Mengingat eksplotasi lahir dari krisis spiritual dan keagamaan, sarannya, maka pendekatan spiritual juga perlu digunakan dalam merespon situasi ini.
“Jika merujuk studi-studi Islam, gerakan spiritual ada dalam Tasawuf. Maka tasawuf harus turut berperan dalam merespon kerusakan lingkungan yang makin parah,” katanya Selasa pekan lalu di Auditorium Utama UIN Jakarta.
Menurutnya, gerakan tasawuf harus ambil peran dalam penyelamatan lingkungan.
Tasawuf bukanlah metode spiritual yang hanya sekedar mengajarkan bagaimana menjadi manusia suci, mengajarkan ilmu tentang maqomat dan ahwal, tapi tidak berbasis pada kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Menurutnya, kerusakan lingkungan lahir dari krisis spiritual dan agama, di mana masyarakat modern menempatkan alam sebagai objek yang tidak memiliki nilai sakral dan terpisah dari keberadaan Tuhan. Karenanya, perlu penumbuhan perspektif sufistik berkesadaran lingkungan dalam mengerem hasrat eksploitatif manusia terhadap alam.
Baca juga: Memahami Tasawuf, Jalan Hamba Mendekat pada Sang Pencipta
Bambang menilai, kerusakan lingkungan tidak cukup diatasi dengan pendekatan normatif dan teknologi. Mengingat eksplotasi lahir dari krisis spiritual dan keagamaan, sarannya, maka pendekatan spiritual juga perlu digunakan dalam merespon situasi ini.
“Jika merujuk studi-studi Islam, gerakan spiritual ada dalam Tasawuf. Maka tasawuf harus turut berperan dalam merespon kerusakan lingkungan yang makin parah,” katanya Selasa pekan lalu di Auditorium Utama UIN Jakarta.
Menurutnya, gerakan tasawuf harus ambil peran dalam penyelamatan lingkungan.
Tasawuf bukanlah metode spiritual yang hanya sekedar mengajarkan bagaimana menjadi manusia suci, mengajarkan ilmu tentang maqomat dan ahwal, tapi tidak berbasis pada kerusakan lingkungan yang semakin parah.