Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Memahami Tasawuf, Jalan Hamba Mendekat pada Sang Pencipta

Muhajirin Jum'at, 09 September 2022 - 18:58 WIB
Memahami Tasawuf, Jalan Hamba Mendekat pada Sang Pencipta
Tarian yang jadi tradisi para sufi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Tasawuf menjadi salah satu tema sensitif dalam kajian khazanah Islam. Banyak kalangan menyebut tasawuf menyimpang, sehingga tak jarang tasawuf terpinggirkan dari lingkup kajian Islam.

Peneliti senior Institute for The Study of Thought and Civilizations (Insists), Dr. Syamsuddin Arif, menguraikan 3 kategori tasawuf. Pertama, tasawuf sebagai praktik/amalan.Tasawuf dipraktikkan secara amaliah dan tercermin dari perilaku seseorang dan menjadi jalan hidup (lifestyle waf of life).

Kedua, tasawuf sebagai doktrin yang diyakini berupa teori maupun ajaran yang dianut. Dalam kategori ini tasawuf menjadi ilmu. Ketiga, tasawuf sebagai sejarah dan bahan pembicaraan yang ditulis tanpa dipraktikkan dan tidak pula dirumuskan dalam suatu konsep tertentu.

Baca Juga: Hakikat Tasawuf dalam Islam, Satu Paket dengan Fikih dan Akidah

“Kategori terakhir biasa dijumpai pada tulisan-tulisan para orientalis yang fokus pada kajian tasawuf ini,” kata Syamsuddin, dikutip laman resmi Insists, Jumat (9/9/2022).

Definisi Tasawuf

Sudah banyak ulama yang memberikan definisi terhadap tasawuf. Ibrahim bin Adham mendefinisikan, tasawuf adalah ajaran yang berorientasi hanya kepada akhirat, takut berbuat dosa kepada Allah Ta’ala, serta zuhud dan mencukupkan diri hanya dengan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah.

Al-Junayd mendefinisikan, tasawuf mengajarkan manusia untuk senantiasa mengingat Allah, menemukan Allah melalui pendengaran (melalui jiwa) dan melalui amal.

Al-Jariri menyebutkan, tasawuf menekankan pada pengamalan akhlak mulia dan meninggalkan akhlak tercela. Abu Bakr as-Syibli mengartikan, tasawuf yakni menjaga panca indra dan memelihara jiwa.

Sementara, Hasan Al-Bashri mendefinisikan tasawuf sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah, bekerja keras dalam konteks beramal dan bersyukur dengan segala yang ada.

Baca Juga: Mengenal Sufi dan Tasawuf, Jalan Spiritual Abu Dzar Al-ghifari hingga Uwais Al Qarni

“Maka tasawuf dapat disebut sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah secara paripurna. Padangan ini dapat dikuatkan Jika kita turut meninjau asal-usul dari kata tasawuf dan sufi,” kata Syamsuddin.

Kiblat Tasawuf

Orang yang mendalami tasawuf memiliki istilah masing-masing sesuai penamaan masing-masing. Orang yang menjalani suluk dapat dikatakan sebagai salik. Begitupun mutasawwif yang sedang menjalani tasawuf, baik secara ilmu maupun praktik, tapi belum sampai di ujung jalannya.

Sedangkan, sufi dianggap sebagai seseorang yang bertasawuf dan telah sampai pada tujuan dan mencapai tingkatan tertentu.

Sufi berasal dari kata suf, seperti halnya sufiyyah, yang didasarkan pada pakaian mereka. Berkenaan dengan asal kata tasawuf, Jika dikaitkan dengan pakaian sufi identik dengan suf atau kain yang terbuat dari kulit domba kasar. Padangan ini lahir karena kezuhudan para sufi dalam aspek berpakaian.

Jika ditinjau dari perilaku, sufi berasal dari kata shafa yang berarti bersih. Jika dikembalikan pada tempat di mana para sufi tinggal pada masa Rasulullah SAW yakni shuffah (ahli masjid).

Rasulullah menyediakan tempat khusus bagi orang-orang tidak mampu di Masjid Nabawi. Orang-orang tersebut setiap hari belajar langsung kepada Rasulullah sampai mereka diberi gelar ahlus shuffah.

Baca Juga: Memahami Tasawuf, Jalan Hidup Orang yang Tak Cinta Dunia Namun Tak Harus Jadi Miskin

Arti lain berasal dari kata shaf yang diartikan sebagai orang-orang yang berada di barisan terdepan. Artinya, mereka senantiasa terdepan membela agama. Kemudian, suffah dalam arti orang-orang yang fokus beribadah.

Meski kelima teori itu memiliki perbedaan, namun semuanya menggambarkan tasawuf dan sufi itu sendiri, yakni sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala secara sempurna.

“Oleh sebab itu, tasawuf tidak bisa disimpulkan dengan amat sederhana dan dengan telaah singkat. Kita tidak boleh gegabah menyematkan kata menyimpang tanpa melakukan pengkajian secara benar serta menyeluruh. Perlu kejujuran dan ketekunan untuk melihat tasawuf secara adil dan beradab,” kata Syamsuddin.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)