LANGIT7.ID - , Jakarta - Dosen Fakultas Ushuluddin
UIN Jakarta, Prof Bambang Irawan menyebut kerusakan
lingkungan terjadi karena manusia memandang alam sebagai objek. Alam hanya dipandang sebagai benda dan dieskploitasi untuk mencapai tujuan manusia.
Menurutnya, kerusakan lingkungan lahir dari krisis
spiritual dan agama, di mana masyarakat modern menempatkan alam sebagai objek yang tidak memiliki nilai sakral dan terpisah dari keberadaan Tuhan. Karenanya, perlu penumbuhan perspektif sufistik berkesadaran lingkungan dalam mengerem hasrat eksploitatif manusia terhadap alam.
Baca juga: Memahami Tasawuf, Jalan Hamba Mendekat pada Sang PenciptaBambang menilai, kerusakan lingkungan tidak cukup diatasi dengan pendekatan normatif dan teknologi. Mengingat
eksplotasi lahir dari krisis spiritual dan keagamaan, sarannya, maka pendekatan spiritual juga perlu digunakan dalam merespon situasi ini.
“Jika merujuk studi-studi Islam, gerakan spiritual ada dalam Tasawuf. Maka tasawuf harus turut berperan dalam merespon kerusakan lingkungan yang makin parah,” katanya Selasa pekan lalu di Auditorium Utama UIN Jakarta.
Menurutnya, gerakan tasawuf harus ambil peran dalam penyelamatan lingkungan.
Tasawuf bukanlah metode spiritual yang hanya sekedar mengajarkan bagaimana menjadi manusia suci, mengajarkan ilmu tentang maqomat dan ahwal, tapi tidak berbasis pada kerusakan lingkungan yang semakin parah.
“Doktrin mahabbah seharusnya tidak hanya ditujukan kepada sang pencipta, tetapi juga ditujukan pada bumi ini dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Jargon “man lam yadzuq lam ya’rif” sejatinya diimplementasikan dalam bentuk ikut merasakan kesedihan akibat bumi yang kita huni ini terus terdesak, tersakiti karena kerakusan manusia,” paparnya lagi.
Baca juga: Hakikat Tasawuf dalam Islam, Satu Paket dengan Fikih dan AkidahDia menilai, pengalaman Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat bisa menjadi contoh tasawuf digunakan sebagai jalan pelestarian lingkungan.
Selain mempelajari keilmuan Islam, para santri di pesantren diajarkan sikap menghargai alam melalui kurikulum bertani dan berkebun yang penuh penghargaan terhadap alam.
“Santri diajarkan bertanam, cinta bercocok tanam dan memakan apa yang ditanam sebagai refleksi mahabbah sekaligus syukur seperti diajarkan dalam Tasawuf,” paparnya.
Dalam menjadikan perspektif spiritual sebagai salah satu solusi penyelesaian krisis lingkungan, Profesor Bambang menawarkan gagasan ‘Green Sufisme’.
Gagasan ini ia definisikan sebagai gerakan spiritual yang menggabungkan ajaran Sufisme dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup atau kesadaran ekologis dan kesadaran spiritual sebagai entitas yang saling terkait.
Baca juga: Gus Baha: Bahaya Bertasawuf Jika Tidak Dibarengi Fikih(est)