Kemenag Akan Beri Pelatihan Agribisnis untuk 109 Pesantren
Redaksi
Sabtu, 28 Agustus 2021 - 00:00 WIB
Santri Pesantren Al Mina Semarang sedang memanen tomat (foto: ponpes.net)
Kementerian Agama akan memberi pelatihan agribisnis bagi 109 pesantren dalam program penguatan kemandirian ekonomi yang digagas Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.
"Tahun ini ada 109 pesantren yang menjadi target pelatihan. Giat ini akan digelar dalam tiga angkatan untuk memastikan prosesnya berjalan dengan protokol kesehatan dan disiplin 5M di tengah pandemi," ujar Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani melalui keterangan tertulis, Jumat (27/8/2021).
Baca Juga: Hasil Riset: Pesantren Berperan Jaga Ketahanan Pangan
Ali menjelaskan secara eksplisit pesantren memiliki posisi strategis sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah sekaligus lembaga pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, pesantren juga bisa berperan sebagai wadah pengembangan ekonomi masyarakat sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Dalam rangka mewujudkan kemandirian pesantren, kata dia, salah satu hal yang perlu ditekankan adalah menanamkan paradigma yang menyejajarkan antara penguasaan keilmuan dan penguasaan ekonomi.
Baginya, kekuatan dan ketangguhan ekonomi bukan sebatas urusan duniawi, melainkan menjadi poros utama dalam mewujudkan kehidupan beragama yang lebih baik.
"Tahun ini ada 109 pesantren yang menjadi target pelatihan. Giat ini akan digelar dalam tiga angkatan untuk memastikan prosesnya berjalan dengan protokol kesehatan dan disiplin 5M di tengah pandemi," ujar Dirjen Pendidikan Islam M. Ali Ramdhani melalui keterangan tertulis, Jumat (27/8/2021).
Baca Juga: Hasil Riset: Pesantren Berperan Jaga Ketahanan Pangan
Ali menjelaskan secara eksplisit pesantren memiliki posisi strategis sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah sekaligus lembaga pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, pesantren juga bisa berperan sebagai wadah pengembangan ekonomi masyarakat sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Dalam rangka mewujudkan kemandirian pesantren, kata dia, salah satu hal yang perlu ditekankan adalah menanamkan paradigma yang menyejajarkan antara penguasaan keilmuan dan penguasaan ekonomi.
Baginya, kekuatan dan ketangguhan ekonomi bukan sebatas urusan duniawi, melainkan menjadi poros utama dalam mewujudkan kehidupan beragama yang lebih baik.