LANGIT7.ID, Pontianak - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak memaparkan hasil penelitian hubungan pesantren dan ketahanan pangan dalam
Webinar Series and Research Exposes bertajuk “Agribisnis Pondok Pesantren Berbasis Ketahanan pangan”, Selasa (3/8/2021). Hasil penelitian itu menyebut pondok pesantren memiliki andil untuk meminimalisasi kekurangan pangan.
Penelitian dilakukan tiga dosen IAIN Pontianak yaitu Rasiam, M Syaifullah, dan Ridwa di dua pondok pesantren yang berada di Kubu Raya, Kalimantan Barat yakni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum II dan Pondok Pesantren Abdussalam.
Penelitian itu dilatarbelakangi isu-isu krisis pangan dunia seperti lahan pertanian yang semakin sempit yang menghambat produktivitas kebutuhan pangan. Banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi pemukiman. Cara mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya kontribusi dari seluruh kalangan masyarakat.
Dalam hal ini, pesantren menjadi salah satu penjaga ketahanan pangan tidak lepas dari paradigma kiai terhadap pangan dan agribisnis. Kiai memiliki empat paradigma dalam melihat permasalahan tersebut. Pertama, pangan merupakan kebutuhan primer bagi santri. Kedua, pesantren tidak dapat berdiri sendiri, sehingga diperlukan manajemen pondok berbasis pengembangan agribisnis untuk ketahanan pangan. Ketiga, santri tidak hanya belajar agama. Pondok pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan karakter kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja produktif untuk kemandirian santri. Keempat, para kiai selalu menanamkan kepada santri bahwa kerja adalah ibadah.
“Jadi, pondok pesantren yang kami teliti itu melakukan manajemen pengelolaan beberapa jenis pangan berbasis agribisnis seperti padi, lada, sawit, cabai, sayuran, karet, dan kayu albasia. Hasil pengelolaan tersebut kemudian diberdayakan oleh santri di sana,” kata Rasiam, dikutip dari laman NU Online, Rabu (4/8/2021).Peran pesantren dalam ketahanan pangan juga bisa dilihat di
Pesantren Ekologi Athaariq. Pondok pesantren asuhan KH Ibang Lukman Nurdin dan Ny Nissa Wargadipura itu terletak di Desa Sukagalih, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat mengajarkan santri pengolahan pertanian dan perkebunan.
Di pesantren itu, santri diajarkan untuk berkomitmen hidup mandiri dan menjaga kelestarian alam. Pertanian dan perkebunan masuk dalam kurikulum pesantren. Mereka menggunakan
open pollinated organic seed yang berarti benih organik yang diserbuki secara terbuka dalam bertani dan berkebun.
Pesantren Ath-Thariq memang didirikan dengan konsep ekologi. Jadi, selain belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama, para santri diajarkan bertani dan berkebun. Mengutip laman resmi Pesantren Ekologi, Pesantren Ath-Thaariq akan menempa santri untuk mandiri, baik pada saat di pondok atau setelah selesai. Mereka akan disiapkan untuk belajar melayani diri sendiri dan alam.
Sistem
Open Pollinated Organic Seed yang digunakan berbasis pengetahuan ekologi. Pendidikan ini sangat cocok di mana industri pabrik sudah merambah hutan, apalagi tambang. Sistem itu berbasis Agroekologi, artinya para santri diajarkan tentang pentingnya menanam tanpa merusak ekosistem, merawat, memanen, dan memasarkan dengan harga yang adil. Bahkan, para santri dilatih melakukan penelitian dan menjadi inventor. Berbekal pendidikan itu, para santri bisa tumbuh menjadi pribadi yang berpandangan pada penyelamatan dan kepedulian pada manusia, bumi dan masa depan.
“Dalam islam itu tidak hanya cerita soal kebutuhan untuk pangan, tetapi disisi lain kewajiban untuk menjaga lingkungan, Ada hak binatang lain selain manusia, ada hak lingkungan juga,” begitu kata pengantar pendiri dalam laman resmi mereka.
Masih banyak lagi pesantren di Indonesia yang memiliki perhatian kepada agribisnis dalam rangka menopang ketahanan pangan. Misalkan Pesantren Al-Ittifaq Ciwidey Bandung hingga Pesantren Darunnajah Cipining Bogor.
(jqf)