LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati), Ismid Hadad, menilai pondok pesantren memiliki peran besar untuk melestarikan lingkungan. Selain memiliki pengaruh di tengah masyarakat, banyak pesantren yang memiliki program Ekopesantren.
“Ekopesantren, apa dan bagaimana umat Islam serta umat Islam di pedesaan di kota-kota untuk melakukan upaya pelestarian alam. Eko kependekan dari ekologi, jadi ekologinya pesantren,” kata Ismid di Gedung Cyber Universitas Nasional (Unas), Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2022).
Ekopesantren merupakan istilah baru yang dilabelkan kepada pesantren yang peduli terhadap aksi-aksi lingkungan. Program ekopesantren sudah dimulai sejak 2008. Ada lebih dari 28 ribu pesantren dengan sekira lima juta santri di Indonesia.
Baca Juga: Krisis Iklim Kian Parah, Umat Islam Harus Bagaimana?
Tentu saja sebagai lembaga pendidikan dan kaderisasi umat Islam, pesantren merupakan sumber potensial gerakan perubahan dalam Islam. Pesantren mengemban tugas penting dalam mendemonstrasikan keharmonisan lingkungan, khususnya di bidang pendidikan.
Ismid menceritakan hasil pertemuannya dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) setelah kembali dari Mesir dan Baghdad untuk kuliah. Kala itu, Gus Dur berdiskusi dengan Ismid terkait peran pesantren dalam melestarikan lingkungan.
“Bagaimana memajukan pesantren sambil memperbaiki lingkungannya, salah satunya dimulai, setiap pesantren itu kan punya lahan cukup luas, ada kebun-kebunnya. Kebun itu selalu ditanami dengan tanaman obat atau herbal. Dengan menanam tanaman herbal di pesantren, paling tidak kalau ada yang sakit tidak mesti ke apotek atau ke dokter. Cukup dipenuhi dari situ,” ujar Ismid.
Di dalam ekopesantren, setidaknya ada Sembilan program lingkungan yang bisa dijadikan aksi. Di antaranya program air, program energi, program transportasi, program limbah, program sampah, program lahan pesantren, program hidup sehat, program keanekaragaman hayati, dan program integrasi pelajaran fikih lingkungan.
Baca Juga: Pesantren Ekologi Ath-Thaariq: Tak Hanya Ngaji, tapi Juga Menjaga Alam Terus Lestari
Program itu dapat dikembangkan untuk pesantren dan dilakukan secara mandiri. Misalnya Pondok Pesantren Nurul Haramain di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang menggerakkan pesantren dengan pemanfaatan lahan.
Pondok Nurul Haramain telah menghijaukan lahan pesantren seluas 17 ha sejak 2005. Saat ini, PP Nurul Haramain telah memetic hasil dengan ketersediaan air bersih. Kegiatan ini banyak menarik perhatian dan keteladanan bagi masyarakat sekitar pesantren maupun di luar pesantren.
Aksi-aksi pesantren di seluruh Indonesia sudah sangat banyak dan nyata. Pengalaman mereka untuk berbagi tentang keunikan gerakan sangat berpotensi memberikan inspirasi kepada pesantren lain.
Baca Juga: PBNU Gagas Pesantren Hijau, Cetak Santri Sadar Lingkungan
Meski tipologi pesantren sangat beragam, tetapi semangat untuk belajar sesuai dengan semangat tafaqquh fiddin bisa terus diperkuat.
“Artinya, pondok pesantren bisa menjadi contoh luar biasa mempengaruhi masyarakat untuk melestarikan lingkungan, pada waktu bersamaan dia sendiri bisa menjadi pondok pesantren yang self supporting atau bisa memberdayakan kelompok masyarakatnya sendiri,” ujar Ismid.
Baca Juga: KH Yusron Shidqi: Alumnus Makin Berdaya Saing, Pesantren Kian Diminati(jqf)