Meski Diserang Pengaku Nabi, MUI Tetap Istiqamah Jaga Akidah Umat
Muhajirin
Sabtu, 06 Mei 2023 - 07:00 WIB
MUI tetap istiqamah jaga aqidah Islam.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, KH Asrorum Niam Sholeh, akan terus konsisten (istiqamah) menjaga akidah umat Islam dari paham-paham yang menyimpang.
Niam menegaskan hal tersebut setelah insiden penembakan kantor MUI Pusat oleh orang yang mengaku nabi pada Selasa (2/5/2023). Dia menyebut MUI tidak akan gentar dan akan terus berdakwah menjaga akidah umat.
“Ada perbedaan yang pada hakikatnya adalah penyimpangan. Dalam konteks ini, MUI terus istiqamah. Sekalipun ada teror, ada ancaman, ada tekanan yang meminta MUI tidak menyampaikan kebenaran, MUI tetap menjalankan khidmat itu dan tidak mengurangi sedikitpun level perkhidmatan itu,” papar Niam, dikutip laman resmi MUI, Jumat (5/5/2023).
Baca juga:Usai Penembakan Kantor MUI, Pelayanan dan Pekerjaan Tetap Berjalan Normal
Niam menjelaskan, MUI selama ini selalu meneliti aliran sesat yang ada di Indonesia. Cap MUI sebagai lembaga intoleran kebanyak muncul karena tugas MUI dalam meneliti aliran menyimpang atau sesat. Sebab, itu adalah aspek akidah, MUI tidak bisa memberi ruang terhadap penyimpangan.
“MUI selama ini melakukan perkhidmatan untuk menelaah, meneliti, membahas berbagai aliran keagamaan yang ada di Indonesia dan memberikan panduan agar masyarakat itu beragama sesuai dengan prinsip-prinsip keagamaan serta menyatakan kalau ternyata ada penyimpangan, dikatakan itu penyimpangan. Jadi, tidak bisa ada nama toleransi kita memberikan ruang terhadap penyimpangan dan atau penodaan,” kata Niam.
Niam menjelaskan, toleransi tidak bisa dipukul rata untuk semua aspek. Ada aspek-aspek inti ajaran agama yang tidak bisa ditoleransi. Meski begitu, MUI selalu mengimbau aparat penegak hukum maupun masyarakat untuk tidak represif terhadap penganut aliran menyimpang.
Niam menegaskan hal tersebut setelah insiden penembakan kantor MUI Pusat oleh orang yang mengaku nabi pada Selasa (2/5/2023). Dia menyebut MUI tidak akan gentar dan akan terus berdakwah menjaga akidah umat.
“Ada perbedaan yang pada hakikatnya adalah penyimpangan. Dalam konteks ini, MUI terus istiqamah. Sekalipun ada teror, ada ancaman, ada tekanan yang meminta MUI tidak menyampaikan kebenaran, MUI tetap menjalankan khidmat itu dan tidak mengurangi sedikitpun level perkhidmatan itu,” papar Niam, dikutip laman resmi MUI, Jumat (5/5/2023).
Baca juga:Usai Penembakan Kantor MUI, Pelayanan dan Pekerjaan Tetap Berjalan Normal
Niam menjelaskan, MUI selama ini selalu meneliti aliran sesat yang ada di Indonesia. Cap MUI sebagai lembaga intoleran kebanyak muncul karena tugas MUI dalam meneliti aliran menyimpang atau sesat. Sebab, itu adalah aspek akidah, MUI tidak bisa memberi ruang terhadap penyimpangan.
“MUI selama ini melakukan perkhidmatan untuk menelaah, meneliti, membahas berbagai aliran keagamaan yang ada di Indonesia dan memberikan panduan agar masyarakat itu beragama sesuai dengan prinsip-prinsip keagamaan serta menyatakan kalau ternyata ada penyimpangan, dikatakan itu penyimpangan. Jadi, tidak bisa ada nama toleransi kita memberikan ruang terhadap penyimpangan dan atau penodaan,” kata Niam.
Niam menjelaskan, toleransi tidak bisa dipukul rata untuk semua aspek. Ada aspek-aspek inti ajaran agama yang tidak bisa ditoleransi. Meski begitu, MUI selalu mengimbau aparat penegak hukum maupun masyarakat untuk tidak represif terhadap penganut aliran menyimpang.