Kebenaran Al-Qur'an Mutlak, Kenapa Tafsir Bisa Berbeda-Beda?
Muhajirin
Jum'at, 19 Mei 2023 - 07:30 WIB
Kebenaran Al-Quran mutlak dan menjadi rujukan umat Islam dalam setiap kehidupan.
Pemikiran Islam sudah jelas tegak di atas fondasi Al-Qur'an dan Hadits. Al-Qur'an dan Hadits menjadi rujukan umat Islam. Lalu, kenapa tafsir Al-Qur'an maupun Hadits kerap berbeda-beda?
Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, mengungkapkan, paham agama di dunia terus mengalami perubahan dan perkembangan secara dinamis. Ini berdasarkan fakta otak manusia terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan situasi dan kondisi zaman yang tidak statis.
Di sisi lain, pandangan para ulama di setiap zaman belum tentu relevan digunakan dengan konteks yang terjadi pada zaman lain. Hal itulah yang kerap menimbulkan perbedaan ulama kontemporer dalam menafisrkan teks keagamaan.
"Bukan perkembangannya yang harus dihindari, karena ini (perkembangan zaman) sesuatu yang niscaya. Pasti akan berkembang beragama itu," kata Lukman di depan para tokoh agama yang mengikuti ToT penggerak moderasi beragama di Jakarta, dikutip laman resmi NU, Jumat (19/5/2023).
Baca juga:Berbakti ke Orang Tua, Rahasia Gus Baha Bisa Jadi Ulama Cerdas
Perkembangan paham agama ini juga tidak terlepas dari perbedaan-perbedaan yang muncul dalam memahami teks kitab suci, serta perkataan dan perilaku dari rasul, nabi, dan ulama. Itu karena teks agama yang menjadi rujukan umat beragama dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.
Dalam memahami teks ini, setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda dan menghasilkan tafsir yang berbeda pula. Itu berdasarkan wawasan dan perspektif masing-masing. Terlebih pada teks itu sendiri, terkadang multitafsir atau memiliki banyak makna.
Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, mengungkapkan, paham agama di dunia terus mengalami perubahan dan perkembangan secara dinamis. Ini berdasarkan fakta otak manusia terus mengalami perkembangan seiring dengan perubahan situasi dan kondisi zaman yang tidak statis.
Di sisi lain, pandangan para ulama di setiap zaman belum tentu relevan digunakan dengan konteks yang terjadi pada zaman lain. Hal itulah yang kerap menimbulkan perbedaan ulama kontemporer dalam menafisrkan teks keagamaan.
"Bukan perkembangannya yang harus dihindari, karena ini (perkembangan zaman) sesuatu yang niscaya. Pasti akan berkembang beragama itu," kata Lukman di depan para tokoh agama yang mengikuti ToT penggerak moderasi beragama di Jakarta, dikutip laman resmi NU, Jumat (19/5/2023).
Baca juga:Berbakti ke Orang Tua, Rahasia Gus Baha Bisa Jadi Ulama Cerdas
Perkembangan paham agama ini juga tidak terlepas dari perbedaan-perbedaan yang muncul dalam memahami teks kitab suci, serta perkataan dan perilaku dari rasul, nabi, dan ulama. Itu karena teks agama yang menjadi rujukan umat beragama dalam memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.
Dalam memahami teks ini, setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda dan menghasilkan tafsir yang berbeda pula. Itu berdasarkan wawasan dan perspektif masing-masing. Terlebih pada teks itu sendiri, terkadang multitafsir atau memiliki banyak makna.