home global news

Pemilu 2024 Masih Terjebak pada Agenda Rutinitas Politik

Senin, 29 Mei 2023 - 08:00 WIB
Suasana Diskusi Pojok Bulaksumur bertema Pemilu 2024: Antara Penegakan Hukum dan Keberpihakan Ekonomi di UGM
Pemilu 2024 bukan hanya sebagai bagian dari rutinitas pesta demokrasi lima tahunan. Lebih dari tiu, Pemilu 2024 diharapkan terpilih pemimpin dan wakil rakyat yang berpihak pada masyarakat lemah, menguatnya pemilih muda yang cerdas, antipolitik uang, dan menguatkan politik dan diskursus di era demokrasi.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito, mengatakan, penyelenggaraan Pemilu 2024 seharusnya bisa lebih baik dibandingkan pemilu sebelumnya.

Sebab, idealnya setiap penyelenggaraan pemilu memiliki terobosan baru seperti menguatkan diskusi dan kontestasi politik, adu gagasan bukan sebaliknya munculnya politik uang, depolitisasi, oligarki politik dan politik identitas.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini, depolitisasi semakin menguat di kalangan antarpartai.

Baca juga:Deni Indrayana: MK Bakal Putuskan Sistem Pemilu Proporsional Tertutup

"Depolitisasi melahirkan pemilu jadi agenda rutinitas. Mari kita kembalikan pertarungan antarpartai itu bukan lagi konspirasi membentuk blok politik, tapi bertarung ide dan gagasan," ujar Arie dalam Diskusi Pojok Bulaksumur bertema Pemilu 2024: Antara Penegakan Hukum dan Keberpihakan Ekonomi di UGM, dikutip Senin (29/5/2023)

Arie mengkritisi KPU sebagai penyelenggara pemilu terjebak pada hal teknis dan prosedural. Namun, KPU tidak menguatkan kualitas pemilu dengan melakukan edukasi ke calon pemilih muda, edukasi larangan politik uang hingga mencegah terjadinya kampanye politik identitas.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pemilu 2024 politik pesta demokrasi
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya