Kunci Kebahagiaan Seorang Muslim, Bersahabat dengan Musibah
Muhajirin
Jum'at, 14 Juli 2023 - 11:00 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr Nasaruddin Umar, menjelaskan, penderitaan merupakan salah satu ujian kenaikan kelas seorang hamba di sisi Allah SWT. Tanpa ujian biasanya tidak ada kenaikan kelas.
Hanya saja, kata dia, masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan merupakan ujian kenaikan kelas. Jika direnungkan sejenak, seorang hamba akan menemukan rahasia Allah SWT yang sulit ditebak di balik setiap musibah.
Suatu saat Nabi Yusuf AS berdoa, "YA Allah penjara aku lebih sukai." (QS Yusuf: 33). Nabi Yusuf mengucapkan doa tersebut saat dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.
"(Nabi Yusuf) memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya," kata Prof Umar dalam tausiahnya di Masjid Istiqlal, dikutip Jumat (14/7/2023).
Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih kemerdekaan untuk anak-cucunya. Ini membuktikan penderitaan tidak selamanya menyakitkan, tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama dengan Allah SWT.
"Banyak orang yang bukan nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenangan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin," tutur Prof Nasar.
Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, ika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.
Hanya saja, kata dia, masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan merupakan ujian kenaikan kelas. Jika direnungkan sejenak, seorang hamba akan menemukan rahasia Allah SWT yang sulit ditebak di balik setiap musibah.
Suatu saat Nabi Yusuf AS berdoa, "YA Allah penjara aku lebih sukai." (QS Yusuf: 33). Nabi Yusuf mengucapkan doa tersebut saat dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.
"(Nabi Yusuf) memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya," kata Prof Umar dalam tausiahnya di Masjid Istiqlal, dikutip Jumat (14/7/2023).
Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih kemerdekaan untuk anak-cucunya. Ini membuktikan penderitaan tidak selamanya menyakitkan, tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama dengan Allah SWT.
"Banyak orang yang bukan nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenangan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin," tutur Prof Nasar.
Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, ika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.