Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 06 Juni 2026
home masjid detail berita

Kunci Kebahagiaan Seorang Muslim, Bersahabat dengan Musibah

Muhajirin Jum'at, 14 Juli 2023 - 11:00 WIB
Kunci Kebahagiaan Seorang Muslim, Bersahabat dengan Musibah
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr Nasaruddin Umar, menjelaskan, penderitaan merupakan salah satu ujian kenaikan kelas seorang hamba di sisi Allah SWT. Tanpa ujian biasanya tidak ada kenaikan kelas.

Hanya saja, kata dia, masih jarang orang menyadari bahwa musibah dan penderitaan merupakan ujian kenaikan kelas. Jika direnungkan sejenak, seorang hamba akan menemukan rahasia Allah SWT yang sulit ditebak di balik setiap musibah.

Suatu saat Nabi Yusuf AS berdoa, "YA Allah penjara aku lebih sukai." (QS Yusuf: 33). Nabi Yusuf mengucapkan doa tersebut saat dipaksa oleh raja melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.

"(Nabi Yusuf) memilih hidup menderita di ruang gelap dan sempitnya penjara ketimbang gemerlapnya istana yang ditawarkan kepadanya," kata Prof Umar dalam tausiahnya di Masjid Istiqlal, dikutip Jumat (14/7/2023).

Ternyata bukan hanya Nabi Yusuf, sejarah perjuangan bangsa Indonesia memiliki daftar panjang nama-nama yang rela menderita demi untuk meraih kemerdekaan untuk anak-cucunya. Ini membuktikan penderitaan tidak selamanya menyakitkan, tetapi kadang dirasa lebih asyik, karena boleh jadi merasa sedang bersama dengan Allah SWT.

"Banyak orang yang bukan nabi juga lebih memilih penderitaan secara fisik demi ketenangan batinnya, ketimbang bahagia secara fisik tetapi menderita secara batin," tutur Prof Nasar.

Musibah, bala, kekecewaan, dan ketidaknyamanan bisa diubah menjadi sebuah kenyamanan, ika suasana batin aktif di dalam hati seseorang. Musibah dan penderitaan yang seharusnya menjadi sesuatu yang merepotkan, mengecewakan, menyakitkan, dan memalukan tetapi ada orang yang berhasil menjadikannya sebagai suatu kenikmatan.

Penyakit yang mendera Nabi Ayyub AS sekujur badannya dikerumuni belatung. itu membuatnya dibuang di sebuah gua pegunungan jauh dari perkampungan. dia tidak mempermasalahkan belatung menggerogoti tubuhnya. Justru dia berdoa kepada Allah agar lisan dan hati tidak dimakan belatung supaya bisa tetap berdzikir kepada Allah SWT.

"Penderitaan, rasa sakit, kecewa, malu, menderita, dan tertekan hanyalah masalah psikologis. Musibah bisa diajak berkompromi. Musibah bisa dijadikan batu loncatan untuk naik lebih tinggi dari tempat semula," tutur Prof Nasar.

Banyak contoh dalam kehidupan musibah dijadikan sebagai hikmah untuk lebih maju, kreatif, dan berhasil. Maka itu, Prof Nasar meminta umat Islam tidak memusuhi musibah, karena pasti terasa lebih sakit.

"Jangan memusuhi penyakit karena pasti penyakit itu lebih terasa mendera. Nikmati penderitaan itu, niscara kadar rasa sakitnya akan berkurang secara signifikan. Demikian pendapat para ahli anastesia," ungkap Prof Nasar.

Penderitaan atau musibah sesunggunya adalah surat cinta Allah SWT. Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi undangannya berupa kenikmatan dan kemewahan tidak digubris. Maka, Dia mengubah surat undangannya dalam bentuk musibah.

"Musibah adalah ujian keburukan (balaun sayyiah) tetapi mengangkat martabat kemanusiaan. Ada juga ujian kebaikan (balaun hasanah) tetapi lebih sulit untuk dilulusi hamba-Nya, sehingga lebih banyak orang gugur dari ujian kemewahan daripada ujian musibah," ungkap Prof Nasar.

Musibah dan penderitaan tidak selamanya negatif. Ingat pesan nabi: "Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelakan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak." (HR Tirmidzi no. 2396).



(ori)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 06 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)