LANGIT7.ID- Dalam satu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Nabi menggambarkan perasaan Tuhan ketika hamba-Nya bertaubat: lebih berbahagia daripada orang yang menemukan kembali untanya di padang pasir setelah hilang. Di dunia Arab abad ketujuh, itu bukan metafora kecil. Hilangnya unta berarti hilangnya hidup. Menemukannya kembali adalah pengalaman kebahagiaan ekstrem: kelegaan, keselamatan, dan rasa menang yang tak terkatakan.
Para ulama hadis menyebut bahwa metafora ini sengaja dipilih untuk membalik cara berpikir manusia tentang Tuhan. Tafsir al-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan, rasa bahagia ilahi yang dimaksud adalah ungkapan tentang kedekatan, penerimaan, dan rahmat—bukan emosi dalam pengertian manusiawi. Dengan kata lain, hadis ini ingin menegaskan bahwa taubat bukan sekadar dibolehkan, tetapi disambut.
Dalam sejarah teologi Islam, hadis ini menjadi fondasi konsep bahwa hubungan Tuhan dan manusia bukan relasi antara penguasa dan terdakwa, tetapi antara sumber rahmat dan pencari jalan pulang. Al-Ghazali dalam
Ihya Ulumuddin menempatkan hadis ini sebagai bukti bahwa rahmat selalu mendahului murka. Sementara Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam
Madarij al-Salikin melihatnya sebagai pintu optimisme: manusia boleh tergelincir, tetapi tidak pernah dibiarkan sendirian.
Bila hadis-hadis tentang taubat lain menekankan syarat—penyesalan, tekad berhenti, dan perubahan—maka hadis ini menunjukkan suasana batin Ilahi yang memberi ruang luas bagi manusia untuk memulai kembali. Para peneliti modern seperti Jonathan A. C. Brown menyebutnya sebagai salah satu teks paling penting dalam membangun teologi pengharapan dalam Islam.
Gambaran padang pasir dalam hadis itu juga memuat dimensi psikologis. Kehidupan spiritual sering terasa seperti gurun: sepi, melelahkan, dan penuh bahaya. Hilangnya arah moral sama menyakitkannya dengan hilangnya unta dalam perjalanan jauh. Saat seseorang kembali ke jalan kebaikan, ia tidak hanya menemukan dirinya kembali. Ia juga menemukan Tuhan yang sudah menantinya.
Di tengah masyarakat urban yang sering memosisikan agama sebagai daftar larangan, hadis ini menawarkan paradigma lain: agama sebagai ruang pulang. Riset Khaled Abou El Fadl tentang etika belas kasih dalam Islam menunjukkan bagaimana teks-teks semacam ini berfungsi sebagai koreksi terhadap wacana keagamaan yang terlalu legalistik.
Dalam tradisi sufi, seperti dicatat Annemarie Schimmel, hadis ini dibaca sebagai undangan lembut: bahwa setiap langkah kecil manusia menuju cahaya dibalas bukan dengan dinginnya hukum, melainkan kehangatan sambutan.
Metafora unta yang ditemukan kembali mengandung satu pesan utama: Tuhan tidak mencari kesempurnaan, Ia mencari manusia yang kembali. Dalam kebahagiaan Ilahi itu, agama menemukan wajah paling manusiawi sekaligus paling transendennya. Tuhan tidak berdiri sebagai hakim yang menunggu jatuhnya palu, tetapi sebagai pemilik rahmat yang bersorak melihat seseorang akhirnya pulang.
(mif)