Sosok Ustadz Jazir di Balik Masjid Jogokariyan Yogyakarta
Fajar adhitya
Ahad, 29 Agustus 2021 - 19:00 WIB
Ustadz Jazir di balik Masjid Jogokariyan Yogyakarta. (Foto: Istimewa).
Kesuksesan Masjid Jogokariyan menjadi masjid yang makmur sekaligus memakmurkan ummat tak lepas dari peran Muhammad Jazir Asp. Dia menerapkan nilai-nilai di zaman Rasulullah, sehingga wajah rumah ibadah tersebut sangat ramah bagi warga kampung sekitar.
Jazir lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962. Ayahnya merupakan Imam pertama Masjid Jogokariyan. Hal inilah yang membuat Jazir akrab dengan aktivitas kemasjidan sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Pada usianya yang 10 tahun, Jazir bahkan telah dipercaya mengemban amanah sebagai ketua pengajian anak-anak di langgar kecil sebuah Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta itu.
Baca Juga: Profil Singkat Masjid Jogokariyan dan Sosok Ustadz Jazir di Balik Layar
Empat tahun setelah merasa cukup berpengalaman memimpin kerohanian anak-anak muda, Jazir memberanikan diri maju sebagai ketua remaja masjid. Dari sinilah kelihaian Jazir dalam mengelola masjid mulai meningkat.
Pada era 90-an, suksesi kepala takmir masjid selalu berjalan secara aklamasi atau diteruskan oleh wakilnya. Termasuk Jazir yang didorong menjadi kepala takmir Masjid Jogokariyan menggantikan ketua takmir yang ketiga.
Namun, saat itu Jazir menolak dan tidak mau dipilih secara aklamasi. Ia menyarankan agar masjid menggelar pemilihan umum ketua takmir masjid secara terbuka dan dipilih langsung oleh jamaah.
Jazir lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962. Ayahnya merupakan Imam pertama Masjid Jogokariyan. Hal inilah yang membuat Jazir akrab dengan aktivitas kemasjidan sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.
Pada usianya yang 10 tahun, Jazir bahkan telah dipercaya mengemban amanah sebagai ketua pengajian anak-anak di langgar kecil sebuah Kampung Pinggiran Selatan Yogyakarta itu.
Baca Juga: Profil Singkat Masjid Jogokariyan dan Sosok Ustadz Jazir di Balik Layar
Empat tahun setelah merasa cukup berpengalaman memimpin kerohanian anak-anak muda, Jazir memberanikan diri maju sebagai ketua remaja masjid. Dari sinilah kelihaian Jazir dalam mengelola masjid mulai meningkat.
Pada era 90-an, suksesi kepala takmir masjid selalu berjalan secara aklamasi atau diteruskan oleh wakilnya. Termasuk Jazir yang didorong menjadi kepala takmir Masjid Jogokariyan menggantikan ketua takmir yang ketiga.
Namun, saat itu Jazir menolak dan tidak mau dipilih secara aklamasi. Ia menyarankan agar masjid menggelar pemilihan umum ketua takmir masjid secara terbuka dan dipilih langsung oleh jamaah.