Akhlak Jaga Lisan, Berkata Baik atau Diam
Muhajirin
Jum'at, 21 Juli 2023 - 14:00 WIB
ilustrasi
Founder Formula Hati, Ustadz Muhsinin Fauzi, menjelaskan, menjaga lisan merupakan akhlak yang harus diperjuangkan karena memiliki peran yang besar. Dengan sebab lisan seseorang bisa masuk surga atau masuk neraka. Lisan, jika tidak dikelola dengan sangat baik, bisa menjadi sumber petaka.
"Orang murtad gara-gara lisan, orang jadi munafik gara-gara lisan. Sebaliknya, orang jadi mukmin juga gara-gara lisan, seorang hamba jadi dekat ke Allah gara-gara lisan (dzikir). Memiliki hubungan baik dengan sesama juga gara-gara lisan," kata Ustadz Fauzi Kajian Ahlak dan Adab, dikutip Jumat (21/7/2023).
Unsur-unsur berkata baik meliputi kalimat yang baik, yakni tidak mengandung unsur penghinaan kemaksiatan kesalahan kebohongan. Kedua, intonasi suara baik, ada kata baik tapi diucapkan dengan nada tinggi bisa memberi makna yang lain bahkan bisa menyakiti.
Intonasi suara sedang, yakni berbicara tidak seperti orang cerewet. Ketiga, Perlu juga memperhatikan gesture tubuh yakni mata, mimik wajah, mulut dan lainnya harus juga dijaga. "Poin pertama itu yang paling penting. Poin kedua lihat situasi kondisi (adaptasi). Poin ketiga dan keempat itu pilihan," ungkap Ustadz Fauzi.
Baca juga:Hijrah dan Umar bin Khattab, Nilai Toleransi dalam Islam
Peran lisan sangat luar biasa. Oleh karena itu, memberi peringatan dengan tegas, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkata baik atau diam." (HR Bukhari. 6475 dan Muslim No.47)
Dari hadits itu, kata Ustadz Fauzi, aslinya lisan adalah diam, lalu berkata-kata jika baik. Rasulullah SAW pun mencontohkan hal tersebut. Keseharian beliau cenderung diam. Menjaga lisan tidak sekadar kegiatan, tetapi harus menjadi sebuah karakter. Menjadi sesuatu yang diperjuangkan dan dipertahankan.
"Orang murtad gara-gara lisan, orang jadi munafik gara-gara lisan. Sebaliknya, orang jadi mukmin juga gara-gara lisan, seorang hamba jadi dekat ke Allah gara-gara lisan (dzikir). Memiliki hubungan baik dengan sesama juga gara-gara lisan," kata Ustadz Fauzi Kajian Ahlak dan Adab, dikutip Jumat (21/7/2023).
Unsur-unsur berkata baik meliputi kalimat yang baik, yakni tidak mengandung unsur penghinaan kemaksiatan kesalahan kebohongan. Kedua, intonasi suara baik, ada kata baik tapi diucapkan dengan nada tinggi bisa memberi makna yang lain bahkan bisa menyakiti.
Intonasi suara sedang, yakni berbicara tidak seperti orang cerewet. Ketiga, Perlu juga memperhatikan gesture tubuh yakni mata, mimik wajah, mulut dan lainnya harus juga dijaga. "Poin pertama itu yang paling penting. Poin kedua lihat situasi kondisi (adaptasi). Poin ketiga dan keempat itu pilihan," ungkap Ustadz Fauzi.
Baca juga:Hijrah dan Umar bin Khattab, Nilai Toleransi dalam Islam
Peran lisan sangat luar biasa. Oleh karena itu, memberi peringatan dengan tegas, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkata baik atau diam." (HR Bukhari. 6475 dan Muslim No.47)
Dari hadits itu, kata Ustadz Fauzi, aslinya lisan adalah diam, lalu berkata-kata jika baik. Rasulullah SAW pun mencontohkan hal tersebut. Keseharian beliau cenderung diam. Menjaga lisan tidak sekadar kegiatan, tetapi harus menjadi sebuah karakter. Menjadi sesuatu yang diperjuangkan dan dipertahankan.