Cholil Nafis Ingatkan Ulama Tak Kampanye Politik Saat Berdakwah di Masjid
Tim langit 7
Rabu, 26 Juli 2023 - 18:00 WIB
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis (kiri)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis kembali menegaskan pentingnya sikap toleransi dalam menghadapi tahun politik.
Kiai Cholil menyampaikan, potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik. Merespons situasi politik aktual itu, dibutuhkan sikap moderat dalam menyikapi setiap perbedaan preferensi dan pilihan politik.
Kiai Cholil menyampaikan, potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik. Merespons situasi politik aktual itu, dibutuhkan sikap moderat dalam menyikapi setiap perbedaan preferensi dan pilihan politik.
“Perbedaan itu suatu niscaya. Tidak mungkin kita tidak berbeda. Tapi bagaimana menyikapi perbedaan. Perbedaan kita toleransi dan penyimpangan kita amputasi,” kata Cholil dalam acara Silaturrahim dan Halaqoh Ulama DKI Jakarta dikutip Rabu (26/7/2023).
Baca juga:Gunung Ibu di Halmahera Barat Erupsi, Tinggi Letusan 800 Meter
Isu perbedaan paham agama kerap menjadi penyulut perpecahan. Dia mencontohkan bagaimana residu politik 2014 silam masih terasa imbas polarisasinya hingga saat ini.
Kiai Cholil menjelaskan, toleransi itu berada pada taraf perbedaan pemahaman keagamaan. Selama tidak menyangkut hal yang prinsipil (furuiyyah), maka hal tersebut tidak menjadi masalah.
Kiai Cholil menyampaikan, potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik. Merespons situasi politik aktual itu, dibutuhkan sikap moderat dalam menyikapi setiap perbedaan preferensi dan pilihan politik.
Kiai Cholil menyampaikan, potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik. Merespons situasi politik aktual itu, dibutuhkan sikap moderat dalam menyikapi setiap perbedaan preferensi dan pilihan politik.
“Perbedaan itu suatu niscaya. Tidak mungkin kita tidak berbeda. Tapi bagaimana menyikapi perbedaan. Perbedaan kita toleransi dan penyimpangan kita amputasi,” kata Cholil dalam acara Silaturrahim dan Halaqoh Ulama DKI Jakarta dikutip Rabu (26/7/2023).
Baca juga:Gunung Ibu di Halmahera Barat Erupsi, Tinggi Letusan 800 Meter
Isu perbedaan paham agama kerap menjadi penyulut perpecahan. Dia mencontohkan bagaimana residu politik 2014 silam masih terasa imbas polarisasinya hingga saat ini.
Kiai Cholil menjelaskan, toleransi itu berada pada taraf perbedaan pemahaman keagamaan. Selama tidak menyangkut hal yang prinsipil (furuiyyah), maka hal tersebut tidak menjadi masalah.