Ketua Majelis Ulama Indonesia (
MUI) KH Cholil Nafis kembali menegaskan pentingnya sikap toleransi dalam menghadapi tahun politik.
Kiai Cholil menyampaikan, potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik. Merespons situasi politik aktual itu, dibutuhkan sikap moderat dalam menyikapi setiap perbedaan preferensi dan pilihan politik.
Kiai Cholil menyampaikan, potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik. Merespons situasi politik aktual itu, dibutuhkan sikap moderat dalam menyikapi setiap perbedaan preferensi dan pilihan politik.
“Perbedaan itu suatu niscaya. Tidak mungkin kita tidak berbeda. Tapi bagaimana menyikapi perbedaan. Perbedaan kita toleransi dan penyimpangan kita amputasi,” kata Cholil dalam acara Silaturrahim dan Halaqoh Ulama DKI Jakarta dikutip Rabu (26/7/2023).
Baca juga:
Gunung Ibu di Halmahera Barat Erupsi, Tinggi Letusan 800 MeterIsu perbedaan paham agama kerap menjadi penyulut perpecahan. Dia mencontohkan bagaimana residu politik 2014 silam masih terasa imbas polarisasinya hingga saat ini.
Kiai Cholil menjelaskan, toleransi itu berada pada taraf perbedaan pemahaman keagamaan. Selama tidak menyangkut hal yang prinsipil (furuiyyah), maka hal tersebut tidak menjadi masalah.
“Ini (toleransi) yang harus kita bangun bersama, ada di mana perbedaan dapat ditoleransi, dan penyimpangan diamputasi,” pesannya dalam kegaiatan bertajuk “Urgensi Peran Dai dalam Menjaga Ukhuwan Islamiyah di Tahun Politik”.
Toleransi tersebut, lanjut Cholil, dapat dibangun dengan membiasakan adanya sikap persatuan dan kerukunan di antara sesama.
Terdapat empat hal yang harus dibiasakan dalam menyikapi keberagaman (termasuk pilhan politik).
-Taaruf, saling kenal mengenal dengan sesama.
-Tafahum, saling memahami perbedaan masing-masing.
-Ta’awun, saling membantu kepada kebutuhan masing-masing.
-Takaful, saling memberikan jaminan.
Persatuan dalam kebaragaman tersebut ibarat satu fisik yang saling merasakan antara yang satu dengan yang lain (kal jasadil wahid) dan seperti bangunan yang saling menguatkan (kal bunyanil wahid).
“Kalau ini kita sepakat, republik bisa dijaga ukhuwah dalam kebihnekaan,” kata Kiai Cholil.

(ori)