home edukasi & pesantren

Malam Hijrah yang Menegangkan Itu (02)

Kamis, 27 Juli 2023 - 04:00 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Ketika matahari terbenam di hari Jumat sore itu, Ali sudah berada di rumah Rasulullah SAW. Ali ketika itu baru berumur sekitar 18-19 tahunan. Seorang anak remaja atau pemuda yang pintar dan pemberani. Beliau yang juga sepupunya dan kelak mertuanya itu ditugasi untuk menggantikan Rasulullah tidur di tempat tidurnya malam itu.

Sementara itu, setelah gelap gelita, sekitar ba’da isya para pemuda yang ditugasi untuk menghabisi Rasulullah dari semua suku, kecuali suku Bani Hasyim, telah hadir mengelilingi rumah Rasulullah SAW. Niat mereka adalah menghabisi Rasulullah ketika beliau keluar dari rumahnya di esok subuh. Mereka secara bersama-sama berencana memenggal leher beliau sehingga tidak satu suku pun yang disalahkan.

Sementara itu Rasulullah telah matang dengan persiapannya untuk meninggalkan rumahnya. Segera menjelang tengah malam Rasulullah dengan pelan membuka pintu rumah itu. Beliau melihat para algojo itu. Apalagi memang musim panas dan biasanya langit Mekah pasti cerah. Beliau kemudian melangkah keluar sambil membaca surah Yasin ayat ke 9. Dengan izin Allah para pemuda itupun menjadi mengantuk dan tertidur. Dalam riwayat lainnya disebutkan dan mereka tidak melihat Rasulullah lewat di hadapan mereka semua.

Baca juga:Malam Hijrah yang Menegangkan Itu (1)

Rasulullah langsung menuju rumah Abu Bakar yang telah bersiap dengan dua ekor onta. Abu Bakar juga mengambil semua sisa uangnya. Konon sekitar 5000 dirham. Untuk diketahui, Abu Bakar sebelum masuk Islam adalah saudagar kaya dan terhormat. Kekayaannya mencapai sekitar 50,000 dirham. 45,000 telah dihabiskan untuk membiayai perjuangan Rasulullah, termasuk membebaskan budak-budak yang ketika itu masuk Islam. Mungkin yang paling mesyhur adalah beliau membebaskan Bilal bin Rabah (RA) dari perbudakan Setelah masuk Islam.

Abu Bakar berangkat bersama Rasulullah meninggalkan anak-anak di Mekah (Asma, Abdullah, dan Aisha). Ayah beliau saat itu, Abu Qahafah adalah seorang buta dan saat itu masih kafir bahkan anti Islam. Ketika dia ketahui kalau Abu Bakar meninggalkan anak-anaknya tanpa satu dirham sekalipun dia kembali mengejek anak (Abu Bakar) dan cucunya (Asma: “Bapak apa itu ayahmu. Meninggalkan kamu tanpa bekal sedikit pun” katanya kepada Asma. Umur Asma ketika itu sekitar 17 tahunan.

Mendengar itu Asma mengambil kantong yang biasa dipakai ayahnya menyimpan uang dan memasukkan batu-batuan. Lalu kakeknya diminta mengangkatnya sambil berkata: “ini ayahku meninggalkan banyak uang untuk kami”. Kakeknya (Abu Quhafa) pun terdiam. Dia tidak tahu kalau dalam kantung itu hanya bebatuan. Walau hatinya tetap menggerutu merasa anaknya (Abu Bakar) tidak bertanggung jawab meninggal dirinya dan keluarganya di Mekah demi Muhammad.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
hijrah bulan muharram nabi muhammad saw
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya