home edukasi & pesantren

Turut Rasakan Anomali Cuaca? Ternyata ini Penyebabnya

Kamis, 03 Agustus 2023 - 15:00 WIB
ilustrasi
Fenomena el nino menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini. Peneliti Ahli Utama PRIMA-BRIN, Prof Eddy Hermawan, menemukan terjadinya pergeseran puncak el nino yang diprediksi pada akhir September-Oktober. Hal itu berdasarkan kajiannya dari berbagai literatur ilmiah.

"El nino tahun 2023 tergolong unik karena puncaknya diduga bakal terjadi akhir September/awal Oktober 2023, tidak pada bulan November/Desember seperti pada umumnya. Selain itu, durasinya pun tergolong relatif pendek (berakhir hingga awal tahun 2024)," kata Eddy dalam Diskusi Pakar bertema Memahami Anomali Cuaca dan iklim di Benua Maritim Indonesia di kanal BRIN, dikutip Kamis (3/8/2023).

Namun demikian, Eddy tak menampik jika impak elnino walaupun moderat sudah dirasakan di wilayah timur Indonesia. Tak hanya itu, indikasi kebakaran hutan juga sudah terlihat. Kecil kemungkinan terjadi musim kemarau basah, karena Indian Ocean Dipole (IOD) sudah tidak lagi menuju fase negatif.

"Dan juga hilangnya kolam dingin di pantai barat Sumatera Selatan," ujar Eddy.

Baca juga:Sosiolog: Anak Muda Rentan Alami Gangguan Mental

Eddy menjelaskan, jika el-Nino tahun ini cenderung mengarah ke moderat atau bahkan menuju ke netral dengan nilai 0-1,5, sehingga memberikan impact yang kurang signifikan. Namun demikian, tetap perlu diwaspadai kehadirannya, karena el-Nino 2023 relatif stabil atau konstans sejak akhir Agustus hingga akhir Desember 2023 dengan tingkat probalitas yang relatif tinggi (di antara 90-100%).

"Harapan terakhir jatuh ke Monsun Asia, yang akan meredam atau bahkan memaksa el-Nino 2023 untuk kembali ke posisi normal, sejak akhir Oktober/awal November," tutur Eddy.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
cuaca ekstrem el nino
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya