Dampak Infrastruktur Raksasa, Rakyat Jangan Jadi Sapi Perah Jelang Pemilu
Muhajirin
Sabtu, 19 Agustus 2023 - 13:00 WIB
Pembangunan infrastruktur raksasa jangan sampai mengorbankan masyarakat.Foto/ilustrasi
Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, meminta masyarakat lebih cerdas lagi menjelang pemilu 2024. Rakyat, kata dia, tidak boleh hanya menjadi sapi perah tiap kali pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Itu karena tidak sediki rakyat yang mengalami peminggiran-peminggiran.
"Rakyat jangan hanya menjadi sapi perah menjelang pemilu," kata Busyro dalam diskusi publik Lembaga Hikmah dan Kajian Publik (LHKP) PP Muhammadiyah dengan tema 'Proyek Infrastruktur Raksasa: Bendungan dan Solusi Palsu Krisis Air' di Jakarta, dikutip Jumat (18/8/2023).
Mantan Ketua KPK itu menegaskan, posisi rakyat setelah Pemilu berlangsung seperti ‘habis manis sepah dibuang’. Dalam pandangan Busyro, hajat demokrasi yang berlangsung rutin telah ditaati oleh rakyat. Akan tetapi, rakyat sering hanya dimanfaatkan suaranya, diminta menjalankan kewajiban, tetapi hak-hak mereka ditelantarkan.
Baca juga:6 Peristiwa Penting Bulan Safar, Salah Satunya Pernikahan Rasulullah SAW
Dia menjelaskan, ideologi developmentalisme atau pembangunanisme yang dimiliki oleh pemangku kebijakan di negeri ini tidak selalu berdampak positif. Misalnya, perkara yang disampaikan Susi Mulyani dari Wadon Wadas. Pembangunan Bener di Wadas menyisakan banyak trauma.
"Terlebih bagi ibu-ibu dan anak-anak, mereka masyarakat yang mengalami langsung proses pembangunan," kata Busyro.
Tidak sampai di situ, relasi sosial yang dijalin harmoni antar warga juga ‘bubrah’. Selain itu, lingkungan yang harapannya selalu terjaga dan lestari, karena ideologi pembangunanisme alam menjadi rusak.
"Rakyat jangan hanya menjadi sapi perah menjelang pemilu," kata Busyro dalam diskusi publik Lembaga Hikmah dan Kajian Publik (LHKP) PP Muhammadiyah dengan tema 'Proyek Infrastruktur Raksasa: Bendungan dan Solusi Palsu Krisis Air' di Jakarta, dikutip Jumat (18/8/2023).
Mantan Ketua KPK itu menegaskan, posisi rakyat setelah Pemilu berlangsung seperti ‘habis manis sepah dibuang’. Dalam pandangan Busyro, hajat demokrasi yang berlangsung rutin telah ditaati oleh rakyat. Akan tetapi, rakyat sering hanya dimanfaatkan suaranya, diminta menjalankan kewajiban, tetapi hak-hak mereka ditelantarkan.
Baca juga:6 Peristiwa Penting Bulan Safar, Salah Satunya Pernikahan Rasulullah SAW
Dia menjelaskan, ideologi developmentalisme atau pembangunanisme yang dimiliki oleh pemangku kebijakan di negeri ini tidak selalu berdampak positif. Misalnya, perkara yang disampaikan Susi Mulyani dari Wadon Wadas. Pembangunan Bener di Wadas menyisakan banyak trauma.
"Terlebih bagi ibu-ibu dan anak-anak, mereka masyarakat yang mengalami langsung proses pembangunan," kata Busyro.
Tidak sampai di situ, relasi sosial yang dijalin harmoni antar warga juga ‘bubrah’. Selain itu, lingkungan yang harapannya selalu terjaga dan lestari, karena ideologi pembangunanisme alam menjadi rusak.