BPS: 70% Penduduk Indonesia Pindah ke Kota pada 2045
Muhajirin
Selasa, 19 September 2023 - 16:00 WIB
ilustrasi
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan sebanyak 61,7% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan pada 2045. Angka itu bisa menjadi lebih besar sekitar 70%.
Guru Besar Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Prof Bagong Suyanto, mengatakan, fenomena tersebut merupakan fenomena urbanisasi. Saat ini, fenomena urbanisasi tidak hanya peristiwa hijrahnya penduduk desa ke kota.
“Sebuah wilayah yang berubah menjadi perkotaan juga bisa disebut dengan urbanisasi. Jadi bukan sekedar perpindahan dari desa ke kota tapi beberapa daerah-daerah akan berubah menjadi perkotaan,” kata Bagong melalui laman resmi Unair, dikutip Selasa (19/9/2023).
Tren perubahan wilayah ini bisa digambarkan sebagai tangga berundak. Jadi, tangga yang paling tinggi adalah kota besar. Dari desa ke kota kecil, kota menengah, lalu paling tinggi kota besar.
Baca juga:Jokowi Dukung Digitalisasi di NU untuk Tingkatkan Kualitas Nahdliyin
Tak hanya itu, Prof Bagong menerangkan, saat ini sudah ada indikasi mengenai penduduk yang menjadi warga global. Hal ini terjadi akibat teknologi yang mengalami perkembangan cepat.
“Saat ini dunia sudah tidak memiliki batasan ruang dan waktu, sehingga masyarakat bisa bekerja dan tinggal dimana saja. Sekarang sudah mulai ada orang-orang yang menjadi warga global,” terangnya.
Guru Besar Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Prof Bagong Suyanto, mengatakan, fenomena tersebut merupakan fenomena urbanisasi. Saat ini, fenomena urbanisasi tidak hanya peristiwa hijrahnya penduduk desa ke kota.
“Sebuah wilayah yang berubah menjadi perkotaan juga bisa disebut dengan urbanisasi. Jadi bukan sekedar perpindahan dari desa ke kota tapi beberapa daerah-daerah akan berubah menjadi perkotaan,” kata Bagong melalui laman resmi Unair, dikutip Selasa (19/9/2023).
Tren perubahan wilayah ini bisa digambarkan sebagai tangga berundak. Jadi, tangga yang paling tinggi adalah kota besar. Dari desa ke kota kecil, kota menengah, lalu paling tinggi kota besar.
Baca juga:Jokowi Dukung Digitalisasi di NU untuk Tingkatkan Kualitas Nahdliyin
Tak hanya itu, Prof Bagong menerangkan, saat ini sudah ada indikasi mengenai penduduk yang menjadi warga global. Hal ini terjadi akibat teknologi yang mengalami perkembangan cepat.
“Saat ini dunia sudah tidak memiliki batasan ruang dan waktu, sehingga masyarakat bisa bekerja dan tinggal dimana saja. Sekarang sudah mulai ada orang-orang yang menjadi warga global,” terangnya.