Pesantren Memang Sederhana, Tapi Punya Peran Besar Terhadap Negara
Muhajirin
Kamis, 26 Oktober 2023 - 18:00 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (NHW), mengatakan, kelompok pesantren dan santri mendedikasikan pengabdian kepada masyarakat pedesaan secara sederhana. Pengabdian tersebut diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang bersifat keagamaan kepada masyarakat.
Kehadiran santri pada awalnya memang sebagai pelajar dan penyiar agama Islam. Namun, lebih jauh dari itu, kelompok santri berikhtiar meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial, yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral keagamaan.
Pada perkembangannya, peran santri dikembangkan kepada upaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks seperti ini, para santri pada dasarnya merupakan pendidik yang sarat dengan nuansa reformasi sosial.
Santri memiliki prinsip bahwa ahli ilmu memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding ahli ibadah. Ahli ilmu bisa menyebarkan manfaat ke masyarakat bahkan negara. Sementara, ahli ibadah hanya untuk pribadi saja.
Baca juga:Lewat Buku Poso di Balik Operasi Madago Raya, Mayjend Farid Makruf Paparkan Soliditas TNI-Polri
“Dari sinilah kaum santri menyadarkan dan membangunkan masyarakat akan kondisi kolonialisme oleh para penjajah, agar masyarakat bangun dan bangkit melawan para penjajah merebut kemerdekaannya,” kata HNW saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Kamis (26/10/2023).
Dari situ, bangkit Pangeran Diponegoro, Teungku Cik Ditiro, Tuanku Imam Bonjol, Syaikh Yusuf AlMakassari, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, KH. Sholeh Darat, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, serta nama-nama mulia lainnya dari kalangan ulama dan santri yang dengan gagah berani serta bijaksana melawan kolonialisme asing yang menindas umat Islam dan masyarakat Nusantara.
Kehadiran santri pada awalnya memang sebagai pelajar dan penyiar agama Islam. Namun, lebih jauh dari itu, kelompok santri berikhtiar meletakkan visi dan kiprahnya dalam kerangka pengabdian sosial, yang pada mulanya ditekankan kepada pembentukan moral keagamaan.
Pada perkembangannya, peran santri dikembangkan kepada upaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks seperti ini, para santri pada dasarnya merupakan pendidik yang sarat dengan nuansa reformasi sosial.
Santri memiliki prinsip bahwa ahli ilmu memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding ahli ibadah. Ahli ilmu bisa menyebarkan manfaat ke masyarakat bahkan negara. Sementara, ahli ibadah hanya untuk pribadi saja.
Baca juga:Lewat Buku Poso di Balik Operasi Madago Raya, Mayjend Farid Makruf Paparkan Soliditas TNI-Polri
“Dari sinilah kaum santri menyadarkan dan membangunkan masyarakat akan kondisi kolonialisme oleh para penjajah, agar masyarakat bangun dan bangkit melawan para penjajah merebut kemerdekaannya,” kata HNW saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal Jakarta, dikutip Kamis (26/10/2023).
Dari situ, bangkit Pangeran Diponegoro, Teungku Cik Ditiro, Tuanku Imam Bonjol, Syaikh Yusuf AlMakassari, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, KH. Sholeh Darat, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, HOS Tjokroaminoto, serta nama-nama mulia lainnya dari kalangan ulama dan santri yang dengan gagah berani serta bijaksana melawan kolonialisme asing yang menindas umat Islam dan masyarakat Nusantara.