Berdiri di Tanah Misi Katolik Mindiptana, Masjid Al-Muhajirin Jadi Potret Kerukunan Papua
Tim langit 7
Sabtu, 28 Oktober 2023 - 09:00 WIB
Masjid Al-Muhajirin di Desa Mindiptana, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua menjadi potret kerukunan antar umat beragama.Foto/dok Kemenag
Masjid Al-Muhajirin di Desa Mindiptana, Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua menjadi potret kerukunan antar umat beragama di sana.
Sekilas melihat masjid dengan cat dominan berwarna hijau ini sama dengan rumah ibadah umat Islam pada umumnya. Bentuk bangunan bernuansa kubah dilengkapi dengan sejumlah tiang penyangga. Ada juga sudut bangunan yang dimanfaatkan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).
Namun, Masjid Al-Muhajirin ini terbilang istimewa. Sebab, rumah ibadah umat Islam ini justru berdiri di dalam kompleks misi (agama Katolik) di Mindiptana.
Baca juga:MUSHOLLA BAGUS, SALAH SATU KUNCI SUKSES RESTO SHSD
Sontak keberadaannya menjadi sepenggal potret kerukunan dan toleransi warga Mindiptana. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu Desa Sadar Kerukunan dalam program yang digulirkan oleh Kementerian Agama.
Selama ini, kita mengenal Kabupaten Boven Digoel sebagai tempat pengasingan Wakil Presiden Indonesia yang pertama, Bung Hatta. Mayoritas penduduk di wilayah ini beragama Katolik. Mereka hidup rukun bersama pemeluk agama lainnya, Kristen dan Islam. Fakta ini juga yang menjadi alasan Mindiptana terpilih sebagai Desa Sadar Kerukunan.
Sebuah Kawasan dapat dicanangkan sebagai Desa Sadar Kerukunan, jika memenuhi minimal tiga syarat. Pertama, di desa tersebut minimal ada pemeluk tiga agama yang berbeda. Kedua, desa ini memiliki tiga tempat ibadah dari tiga agama yang berbeda. Ketiga, di desa ini tidak pernah terjadi konflik bernuansa agama yang mengganggu kerukunan antar umat beragama.
Sekilas melihat masjid dengan cat dominan berwarna hijau ini sama dengan rumah ibadah umat Islam pada umumnya. Bentuk bangunan bernuansa kubah dilengkapi dengan sejumlah tiang penyangga. Ada juga sudut bangunan yang dimanfaatkan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).
Namun, Masjid Al-Muhajirin ini terbilang istimewa. Sebab, rumah ibadah umat Islam ini justru berdiri di dalam kompleks misi (agama Katolik) di Mindiptana.
Baca juga:MUSHOLLA BAGUS, SALAH SATU KUNCI SUKSES RESTO SHSD
Sontak keberadaannya menjadi sepenggal potret kerukunan dan toleransi warga Mindiptana. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu Desa Sadar Kerukunan dalam program yang digulirkan oleh Kementerian Agama.
Selama ini, kita mengenal Kabupaten Boven Digoel sebagai tempat pengasingan Wakil Presiden Indonesia yang pertama, Bung Hatta. Mayoritas penduduk di wilayah ini beragama Katolik. Mereka hidup rukun bersama pemeluk agama lainnya, Kristen dan Islam. Fakta ini juga yang menjadi alasan Mindiptana terpilih sebagai Desa Sadar Kerukunan.
Sebuah Kawasan dapat dicanangkan sebagai Desa Sadar Kerukunan, jika memenuhi minimal tiga syarat. Pertama, di desa tersebut minimal ada pemeluk tiga agama yang berbeda. Kedua, desa ini memiliki tiga tempat ibadah dari tiga agama yang berbeda. Ketiga, di desa ini tidak pernah terjadi konflik bernuansa agama yang mengganggu kerukunan antar umat beragama.