5 Tips Membangun Keluarga ala Rasulullah SAW
Muhajirin
Rabu, 29 November 2023 - 21:00 WIB
ilustrasi
Salah satu indikasi keberhasilan sebuah negara bangsa adalah kehidupan keluarga anggota masyarakat baik dan maslahah. Bangunan bangsa dan negara harus dimulai dari bangunan keluarga.
Jika bangunan keluarga baik, maka masyarakat akan baik. Bila masyarakat baik, bangsa dan negara akan baik. Maka, keluarga maslahah adalah modal utama dalam membangun bangsa.
Ketua PW-NU DKI Jakarta, KH Syamsul Ma’arif, memaparkan lima tips membangun keluarga ala Rasulullah SAW sebagai modal utama membangun keluar maslahah.
1. Pendidikan Praktikum Ibadah kepada Keluarga
Nabi Muhammad SAW selalu memberi contoh atau praktek tuntunan langsung dan mendidik keluarga baik kepada istri maupun cucunya, terutama dalam hal Ibadah. Hal tersebut terlihat dari bagaimana Nabi SAW membangunkan istri-istri beliau untuk shalat malam (witir) dan iktikaf (pada sepuluh hari terakhir Ramadan).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Nabi SAW biasa melakukan shalat malam dengan posisi ‘Aisyah berbaring (melintang) di hadapan beliau. Maka, ketika tersisa witir, beliau membangunkannya, lalu ‘Aisyah melakukan witir” (HR. Muslim).
Demikian pula Nabi Muhammad SAW mengajak cucunya untuk beribadah. Banyak riwayat yang menceritakan kedekatan beliau dengan cucu-cucunya. Saat shalat berjemaah di masjid, Rasulullah menggendong salah satu cucu perempuannya yang bernama Umamah binti Zainab.
Jika bangunan keluarga baik, maka masyarakat akan baik. Bila masyarakat baik, bangsa dan negara akan baik. Maka, keluarga maslahah adalah modal utama dalam membangun bangsa.
Ketua PW-NU DKI Jakarta, KH Syamsul Ma’arif, memaparkan lima tips membangun keluarga ala Rasulullah SAW sebagai modal utama membangun keluar maslahah.
1. Pendidikan Praktikum Ibadah kepada Keluarga
Nabi Muhammad SAW selalu memberi contoh atau praktek tuntunan langsung dan mendidik keluarga baik kepada istri maupun cucunya, terutama dalam hal Ibadah. Hal tersebut terlihat dari bagaimana Nabi SAW membangunkan istri-istri beliau untuk shalat malam (witir) dan iktikaf (pada sepuluh hari terakhir Ramadan).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Nabi SAW biasa melakukan shalat malam dengan posisi ‘Aisyah berbaring (melintang) di hadapan beliau. Maka, ketika tersisa witir, beliau membangunkannya, lalu ‘Aisyah melakukan witir” (HR. Muslim).
Demikian pula Nabi Muhammad SAW mengajak cucunya untuk beribadah. Banyak riwayat yang menceritakan kedekatan beliau dengan cucu-cucunya. Saat shalat berjemaah di masjid, Rasulullah menggendong salah satu cucu perempuannya yang bernama Umamah binti Zainab.