Akademisi dan Budayawan Soroti Situasi Politik Terkini, Singgung Soal Kemunduran Etika
Muhajirin
Sabtu, 23 Desember 2023 - 05:00 WIB
Guru Besar Filsafat dan Etika, Franz Magnis Suseno, menyoroti dinamika demokrasi dan politik di Indonesia menjelang Pemilu dan Pilpres 2024
Guru Besar Filsafat dan Etika, Franz Magnis Suseno, menyoroti dinamika demokrasi dan politik di Indonesia menjelang Pemilu dan Pilpres 2024. Menurut dia, penting bagi semua pihak untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan etika dalam setiap tindakan politik.
Hal itu dia sampaikan dalam diskusi bertajuk ‘Fatsoen Politik & Budaya: Menuju Politik Indonesia Yang Bermartabat Melalui Pembangunan Budaya’ yang digelar The Lead Institute Universitas Paramadina pada Selasa, 19 Desember 2023.
Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini menjelaskan, demokrasi yang nikmat di Indonesia merupakan hasil reformasi yang diperjuangkan dengan berdarah-darah. Namun, Suseno menekankan bahwa yang membuat demokrasi terus bisa berjalan damai dan mantap adalah sejauh mana etika berdemokrasi diterapkan.
“Sejauh mana proses perpolitikan berjalan secara etis,” ujarnya.
Baca juga:Persis Surati Bawaslu soal Polemik Candaan Agama dalam Kampanye
Indonesia, lanjut Suseno, punya kekuatan etik dan kebudayaan yang saling menerima dalam perbedaan. “Itulah mengapa kita dari Sabang sampai Merauke, ratusan komunitas, etnis, budaya agama yang berbeda merasa kita ini satu bangsa kita, saling menerima dan saling menghormati,” tuturnya.
Suseno juga menyoroti ancaman terhadap demokrasi, yakni apabila etika tak lagi dijunjung tinggi dan pemerintahan dijalankan dengan sistem yang korup, di mana uang dianggap bisa membeli kekuasaan.
Hal itu dia sampaikan dalam diskusi bertajuk ‘Fatsoen Politik & Budaya: Menuju Politik Indonesia Yang Bermartabat Melalui Pembangunan Budaya’ yang digelar The Lead Institute Universitas Paramadina pada Selasa, 19 Desember 2023.
Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini menjelaskan, demokrasi yang nikmat di Indonesia merupakan hasil reformasi yang diperjuangkan dengan berdarah-darah. Namun, Suseno menekankan bahwa yang membuat demokrasi terus bisa berjalan damai dan mantap adalah sejauh mana etika berdemokrasi diterapkan.
“Sejauh mana proses perpolitikan berjalan secara etis,” ujarnya.
Baca juga:Persis Surati Bawaslu soal Polemik Candaan Agama dalam Kampanye
Indonesia, lanjut Suseno, punya kekuatan etik dan kebudayaan yang saling menerima dalam perbedaan. “Itulah mengapa kita dari Sabang sampai Merauke, ratusan komunitas, etnis, budaya agama yang berbeda merasa kita ini satu bangsa kita, saling menerima dan saling menghormati,” tuturnya.
Suseno juga menyoroti ancaman terhadap demokrasi, yakni apabila etika tak lagi dijunjung tinggi dan pemerintahan dijalankan dengan sistem yang korup, di mana uang dianggap bisa membeli kekuasaan.