Tawuran, Bullying dan Kekerasan Seksual Masih Jadi PR Besar Pendidikan
Tim langit 7
Senin, 01 Januari 2024 - 23:00 WIB
ilustrasi
Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI) berkolaborasi dengan Suara Orang Tua Peduli (SOP) menyelenggarakan Refleksi Akhir Tahun di Jakarta.
Sejumlah persoalan atau PR (pekerjaan rumah) besar di dunia pendidikan Indonesia dibahas, salah satunya soal kekerasan yang melibatkan pelajar, namun belum ada satgas PPK dan TPPK.
Aktivis SOP, Rahmi Yunita mengungkapkan keprihatinan terhadap fenomena kekerasan di sekolah terkait dengan geng-geng pelajar. Ia menyoroti pola kekerasan dan intimidasi yang seringkali berulang, menciptakan ketidaksetaraan dalam relasi kuasa di kalangan pelajar.
Kebrutalan yang terkait dengan identitas geng, seringkali menjadikan korban yang tidak terlibat dalam geng tersebut menjadi sasaran pemukulan atau serangan bersama.
Meskipun beberapa kasus kekerasan telah mencuat ke permukaan, masih minimnya program di sekolah untuk mengurangi budaya geng. Upaya yang ada terbatas pada kegiatan MPLS atau sosialisasi, sementara kurangnya perhatian terhadap pembangunan kesadaran dan pencegahan kekerasan di sekolah menjadi tantangan serius.
"Saya belum melihat ada sekolah yang punya program untuk mengurangi budaya geng cuma ada MPLS dan sosialisasi. Gimana caranya membuat anak-anak paham tradisi melakukan kekerasan orang lain itu merupakan tindakan kriminal. Saya tidak melihat ada program itu di sekolah kita," kata Yunita.
Yunita mencontohkan kasus kekerasan baru-baru ini, dari kasus di Cilacap dan pemukulan oleh siswa senior kepada siswa junior di Jakarta. Ia menyayangkan belum ada strategi yang kreatif atau efektif untuk menangani kekerasan ini di satuan pendidikan.
Sejumlah persoalan atau PR (pekerjaan rumah) besar di dunia pendidikan Indonesia dibahas, salah satunya soal kekerasan yang melibatkan pelajar, namun belum ada satgas PPK dan TPPK.
Aktivis SOP, Rahmi Yunita mengungkapkan keprihatinan terhadap fenomena kekerasan di sekolah terkait dengan geng-geng pelajar. Ia menyoroti pola kekerasan dan intimidasi yang seringkali berulang, menciptakan ketidaksetaraan dalam relasi kuasa di kalangan pelajar.
Kebrutalan yang terkait dengan identitas geng, seringkali menjadikan korban yang tidak terlibat dalam geng tersebut menjadi sasaran pemukulan atau serangan bersama.
Meskipun beberapa kasus kekerasan telah mencuat ke permukaan, masih minimnya program di sekolah untuk mengurangi budaya geng. Upaya yang ada terbatas pada kegiatan MPLS atau sosialisasi, sementara kurangnya perhatian terhadap pembangunan kesadaran dan pencegahan kekerasan di sekolah menjadi tantangan serius.
"Saya belum melihat ada sekolah yang punya program untuk mengurangi budaya geng cuma ada MPLS dan sosialisasi. Gimana caranya membuat anak-anak paham tradisi melakukan kekerasan orang lain itu merupakan tindakan kriminal. Saya tidak melihat ada program itu di sekolah kita," kata Yunita.
Yunita mencontohkan kasus kekerasan baru-baru ini, dari kasus di Cilacap dan pemukulan oleh siswa senior kepada siswa junior di Jakarta. Ia menyayangkan belum ada strategi yang kreatif atau efektif untuk menangani kekerasan ini di satuan pendidikan.