Fenomena PKL di Gaza, Pengungsi Tetap Berjuang Cari Nafkah di Tengah Pembantaian
Muhajirin
Kamis, 11 Januari 2024 - 14:00 WIB
Pengungsi di Gaza tetap berjuang mencari nafkah di tengah pembantaian.
Pembantaian terus berlanjut di Jalur Gaza. Semua jenis penderitaan bisa disaksikan di wilayah tersebut, seperti kehilangan orang tercinta, kelaparan, epidemi dan lain sebagainya.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para murabith untuk tetap bertahan. Mereka memanfaatkan ragam sumber daya untuk bertahan hidup, meski tiap hari dibayangi kematian. Para suami tak melupakan kewajiban untuk mencari nafkah.
Setiap pagi, pedagang keliling Said Aql membuka lapak untuk barter barang dari para pengungsi. Dia berharap sistem barter tersebut bisa mendapatkan "likuiditas" untuk membeli barang kebutuhan lain untuk keluarganya.
Said Aql, yang juga merupakan seorang pengungsi dari kamp Nusseirat di tengah Jalur Gaza ke Rafah di ujung selatan sekitar 20 hari yang lalu, tidak pernah bekerja di bidang perdagangan. Namun, kondisi sulit karena pembantaian di Jalur sejak 7 Oktober, memaksa dia untuk melakukannya.
Baca juga:Pemindahan Ibu Kota ke IKN Jadi Komponen Menuju Indonesia Emas 2045
Said Aql menjual berbagai jenis biskuit, jus, dan makanan kaleng di gerobak keliling. "Saya bukan pedagang, keadaan membuat saya menjadi penjual agar bisa bertahan hidup, saya memiliki 7 anggota keluarga yang harus saya beri nafkah," katanya, dikutip Aljazeera, Kamis (11/1/2024).
Ada sumber lain dari barang dagangan yang dijual oleh Aql, yaitu "Medan An-Najmah" yang terkenal di Rafah, tempat pedagang grosir menawarkan barang dagangan yang mereka klaim masuk melalui perlintasan Rafah.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para murabith untuk tetap bertahan. Mereka memanfaatkan ragam sumber daya untuk bertahan hidup, meski tiap hari dibayangi kematian. Para suami tak melupakan kewajiban untuk mencari nafkah.
Setiap pagi, pedagang keliling Said Aql membuka lapak untuk barter barang dari para pengungsi. Dia berharap sistem barter tersebut bisa mendapatkan "likuiditas" untuk membeli barang kebutuhan lain untuk keluarganya.
Said Aql, yang juga merupakan seorang pengungsi dari kamp Nusseirat di tengah Jalur Gaza ke Rafah di ujung selatan sekitar 20 hari yang lalu, tidak pernah bekerja di bidang perdagangan. Namun, kondisi sulit karena pembantaian di Jalur sejak 7 Oktober, memaksa dia untuk melakukannya.
Baca juga:Pemindahan Ibu Kota ke IKN Jadi Komponen Menuju Indonesia Emas 2045
Said Aql menjual berbagai jenis biskuit, jus, dan makanan kaleng di gerobak keliling. "Saya bukan pedagang, keadaan membuat saya menjadi penjual agar bisa bertahan hidup, saya memiliki 7 anggota keluarga yang harus saya beri nafkah," katanya, dikutip Aljazeera, Kamis (11/1/2024).
Ada sumber lain dari barang dagangan yang dijual oleh Aql, yaitu "Medan An-Najmah" yang terkenal di Rafah, tempat pedagang grosir menawarkan barang dagangan yang mereka klaim masuk melalui perlintasan Rafah.