Selain Pembantaian, Para Pengungsi di Jalur Gaza Harus Menghadapi Bencana Kelaparan
Muhajirin
Senin, 22 Januari 2024 - 23:30 WIB
ilustrasi
Pembantaian yang dilakukan teroris Israel terhadap warga sipil Jalur Gaza sudah memasuki bulan keempat. Perang genosida tersebut tak hanya menghilangkan nyawa puluhan ribu korban, namun juga menciptakan krisis pangan yang sangat parah.
Orang tua di Jalur Gaza harus mengurangi jatah makan agar anak-anak mereka bisa mengunyah sedikit makanan. Saat bersamaan kerap mereka berpura-pura sudah kenyang demi perut sang buah hati tak keroncongan. Meskipun begitu, bencana kelaparan tidak bisa dihindari.
Krisis pangan di Jalur Gaza yang menyebabkan bencana kelaparan semakin memburuk menimpa lebih dari dua juta murabith saat memasuki bulan keempat perang Israel di wilayah tersebut, lapor surat kabar Inggris Financial Times.
Ini terjadi di tengah peringatan dari lembaga-lembaga PBB bahwa bencana kelaparan mengintai di depan mata. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan, bayangan kelaparan menghantui penduduk Gaza, bersamaan dengan ancaman penyakit, malnutrisi, dan ancaman kesehatan lain.
Seorang pengungsi dari Jalur Gaza utara ke Rafah, Amal Muhammad, menceritakan kondisi anak-anaknya sebelum teroris Israel melakukan pembantaian di Jalur Gaza. anak-anaknya bisa bermain sambil menyelesaikan makan malam.
“Namun, mereka sekarang sangat membutuhkan makanan, tetapi dia hampir tidak dapat memberi mereka makan,” ujar Amal.
"Kami berpura-pura di depan anak-anak bahwa kami tidak lapar atau terlalu sibuk, sehingga kami tidak bisa makan."
Orang tua di Jalur Gaza harus mengurangi jatah makan agar anak-anak mereka bisa mengunyah sedikit makanan. Saat bersamaan kerap mereka berpura-pura sudah kenyang demi perut sang buah hati tak keroncongan. Meskipun begitu, bencana kelaparan tidak bisa dihindari.
Krisis pangan di Jalur Gaza yang menyebabkan bencana kelaparan semakin memburuk menimpa lebih dari dua juta murabith saat memasuki bulan keempat perang Israel di wilayah tersebut, lapor surat kabar Inggris Financial Times.
Ini terjadi di tengah peringatan dari lembaga-lembaga PBB bahwa bencana kelaparan mengintai di depan mata. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengatakan, bayangan kelaparan menghantui penduduk Gaza, bersamaan dengan ancaman penyakit, malnutrisi, dan ancaman kesehatan lain.
Seorang pengungsi dari Jalur Gaza utara ke Rafah, Amal Muhammad, menceritakan kondisi anak-anaknya sebelum teroris Israel melakukan pembantaian di Jalur Gaza. anak-anaknya bisa bermain sambil menyelesaikan makan malam.
“Namun, mereka sekarang sangat membutuhkan makanan, tetapi dia hampir tidak dapat memberi mereka makan,” ujar Amal.
"Kami berpura-pura di depan anak-anak bahwa kami tidak lapar atau terlalu sibuk, sehingga kami tidak bisa makan."