Tiga Jurus Kunci Gus Dur dalam Bersikap dan Bernegara
Muhajirin
Selasa, 07 September 2021 - 16:40 WIB
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Foto: Gusdur.net
Satu tokoh Indonesia. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai seorang presiden yang memiliki dedikasi tinggi terhadap penegakan hak asai manusia (HAM) dan pembela kaum minoritas di Indonesia. Hari ini delapan puluh satu tahun lalu ia dilahirkan di Jombang, Jawa Timur.
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Rijal Mumazziq Z, menjelaskan, terdapat tiga jurus kunci yang digunakan Gus Dur dalam bersikap yaitu Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan. Dalam aspek keislaman, Gus Dur adalah seorang pemikir yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama.
Maka itu, Gus Dur kental dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan fikrah nahdliyyah seperti fikrah tawassuthiyah (pola pikir moderat) yang senantiasa bersikap tasamuh (toleran), tawazun (seimbang-proporsional), dan iātidal (adil).
Kemudian fikrah tasamuhiyyah alias pola pikira toleran, fikrah ishlahiyah (pola pikir reformatif), fikrah tathawwuriyah (pola pikir dinamis), dan fikrah manhajiyyah (pola pikir metodologis sesuai dengan manhaj yang telah ditetapkan NU).
Dalam aspek keindonesiaan, Gus Dur, menurut lelaki yang akrab disapa Gus Rijal ini, mengikuti kontur sikap NU yakni NKRI sebagai bentuk final benegara, Pancasila sebagai dasar negara, serta konsensus politik ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa-setanah air).
Gus Dur meletakkan persaudaraan sebagai sikap yang jelas di tengah pluralism dan multikulturalisme Indonesia.
Baca Juga :
Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah (Inaifas) Jember, Rijal Mumazziq Z, menjelaskan, terdapat tiga jurus kunci yang digunakan Gus Dur dalam bersikap yaitu Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan. Dalam aspek keislaman, Gus Dur adalah seorang pemikir yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama.
Maka itu, Gus Dur kental dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan fikrah nahdliyyah seperti fikrah tawassuthiyah (pola pikir moderat) yang senantiasa bersikap tasamuh (toleran), tawazun (seimbang-proporsional), dan iātidal (adil).
Kemudian fikrah tasamuhiyyah alias pola pikira toleran, fikrah ishlahiyah (pola pikir reformatif), fikrah tathawwuriyah (pola pikir dinamis), dan fikrah manhajiyyah (pola pikir metodologis sesuai dengan manhaj yang telah ditetapkan NU).
Dalam aspek keindonesiaan, Gus Dur, menurut lelaki yang akrab disapa Gus Rijal ini, mengikuti kontur sikap NU yakni NKRI sebagai bentuk final benegara, Pancasila sebagai dasar negara, serta konsensus politik ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa-setanah air).
Gus Dur meletakkan persaudaraan sebagai sikap yang jelas di tengah pluralism dan multikulturalisme Indonesia.
Baca Juga :