Abad 15 Turki Utsmani, Ilmu Medis Darrusifa Sukses Vaksinasi Penderita Cacar
Ahmad zuhdi
Rabu, 08 September 2021 - 20:30 WIB
Museum Kesehatan Sultan II Beyazid Kulliyesi, Turki. Foto: Instagram @henrishalahuddin
Metode vaksin penyembuhan wabah penyakit cacar yang melanda beberapadaerah di dunia kala itusejatinya telah ditemukan di Darussifa. Sebuah rumah sakit yang terdapat di Kompleks Sosial Sultan Beyazid II (Sultan II Beyazid Külliyesi) yang didirikan pada abad 15.
Pesatnya perkembangan medis dan kedokteran saat itu menghasilkan berbagai inovasi dan karya yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Hal tersebut disampaikan Peneliti Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists) Doktor Henri Shalahuddin.
Baca Juga:Klaim Vaksin Pertama Kali Ditemukan di Era Turki Utsmani, Begini Kisahnya
"Alhamdulillah, saya dan keluarga mengunjungi museum kesehatan tersebut dua kali pada Januari dan Maret 2021, dan mengajak beberapa mahasiswa alumni Gontor yang kuliah di Turki untuk menyaksikan pencapaian generasi ummat terdahulu dalam pengelolaan wakaf untuk bidang kesehatan," kata Dr Henri dikutip halaman digital resmi Insists, Rabu (8/9/2021).
Dalam cuplikan video singkat di akun media sosial miliknya, Dr Henri memperlihatkan miniatur Sekolah Kedokteran di Turki yang dibangun sejak masa Sultan Beyazit Kulleyesi II. Momen tersebut terjadi saat Turki dipimpin putra Al-Fatih atau sultan kedelapan.
"Di sini banyak sekali laboratorium yang menggambarkan tentang bagaimana proses pengajaran di Sekolah Kedokteran ini. Dokter yang mengajar di sini mendapat 60 dirham per hari, dua kali lipat dari pada dokter praktik," ujarnya.
Dalam miniatur yang menggambarkan sosok pengajar dengan menggunakan baju khas Turki tersebut, penonton dapat melihat beberapa kaligrafi tentang hadits di dalam ruangan. Di antaranya hadits yang menyebutkan dua nikmat yang sering dilupakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Menurutnya, mengembangkan daya kreasimerupakan ciri psikologi bangsa yang sehat.
Pesatnya perkembangan medis dan kedokteran saat itu menghasilkan berbagai inovasi dan karya yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Hal tersebut disampaikan Peneliti Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists) Doktor Henri Shalahuddin.
Baca Juga:Klaim Vaksin Pertama Kali Ditemukan di Era Turki Utsmani, Begini Kisahnya
"Alhamdulillah, saya dan keluarga mengunjungi museum kesehatan tersebut dua kali pada Januari dan Maret 2021, dan mengajak beberapa mahasiswa alumni Gontor yang kuliah di Turki untuk menyaksikan pencapaian generasi ummat terdahulu dalam pengelolaan wakaf untuk bidang kesehatan," kata Dr Henri dikutip halaman digital resmi Insists, Rabu (8/9/2021).
Dalam cuplikan video singkat di akun media sosial miliknya, Dr Henri memperlihatkan miniatur Sekolah Kedokteran di Turki yang dibangun sejak masa Sultan Beyazit Kulleyesi II. Momen tersebut terjadi saat Turki dipimpin putra Al-Fatih atau sultan kedelapan.
"Di sini banyak sekali laboratorium yang menggambarkan tentang bagaimana proses pengajaran di Sekolah Kedokteran ini. Dokter yang mengajar di sini mendapat 60 dirham per hari, dua kali lipat dari pada dokter praktik," ujarnya.
Dalam miniatur yang menggambarkan sosok pengajar dengan menggunakan baju khas Turki tersebut, penonton dapat melihat beberapa kaligrafi tentang hadits di dalam ruangan. Di antaranya hadits yang menyebutkan dua nikmat yang sering dilupakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang. Menurutnya, mengembangkan daya kreasimerupakan ciri psikologi bangsa yang sehat.