LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan masyarakat diramaikan dengan beredarnya sertifikat vaksin pada 1721 Masehi masa Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. Masyarakat saat itu yang sudah vaksinasi cacar mendapatkan sertifikat layaknya seperti yang terjadi saat ini akibat pandemi Covid-19.
Sertifikat vaksin saat itu juga menuliskan identitas pribadi hingga tanggal kembali untuk vaksin selanjutnya. Peneliti
Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists) Dr Henri Shalahuddin angkat bicara terkait beredarnya sertifikat vaksin masa Khilafah Islamiyah Turki Utsmani.
Baca Juga: Mantab Berhijrah, Penjaga Gawang PSIS Joko Ribowo Kini Lebih TenangDia mengaku, belum bisa memastikan secara langsung tentang keabsahan berita sertifikasi vaksin yang dikeluarkan pemerintah Turki Utsmani tersebut. "Sebab di Istanbul saja ada sekitar 1,5 juta manuskrip zaman Turki Utsmani," kata Ustadz Henri dikutip dari laman resmi Insists, Rabu (8/9/2021).
"Tetapi peneliti Yunani seperti Kyriakoussis dan kawan-kawan pada Januari 2021 menerbitkan artikel mereka bertema
Vaccination of The Ethnic Greeks Against Smallpox in The Ottoman Empire. Artikel ini menjelaskan keabsahan gambar manuskrip dokumen vaksin di Turki Utsmani tersebut. Bahkan mereka menyertakan enam gambar dokumen yang menjelaskan bukti dan sertifikat keluarga yang sudah divaksin di wilayah Turki Utsmani pada 1903 dan 1913," ungkapnya.
Ustadz Henri menerangkan, metode penyembuhan wabah cacar saat itu diwarisi Turki Utsmani dari Dinasti Seljuk. Sementara, menurut Doktor Rafat Osman, Turki Utsmani saat itu menggunakan metode variolasi, yaitu menyuntikkan virus cacar kepada orang yang tidak terinfeksi.
Baca Juga: Berawal dari Jamaah Shalawat, Berdiri Pesantren Darul FalahSedangkan di daerah Edirne, variolasi biasanya dilakukan di tempat pemandian (
hamaam) dan di saat penyuntikan dinding-dinding kamar mandi dihiasi dengan bunga mawar. Aneka makanan dan minuman dihidangkan dan diiringi dengan musik yang menghibur.
Selanjutnya, dokter perempuan melakukan tugasnya dengan materi cangkok (jaringan hidup yang ditransplantasikan melalui pembedahan) yang ditempatkan di dalam daun ara. Dia lalu menutup sayatan dengan daun mawar yang direndam dalam air mawar.
"Penyuntikan imunisasi cacar di masa itu dilakukan dengan jarum sayat. Kulit digores dengan jarum gading dan bahan imunisasi dalam jarum akan menyebar ke tubuh pasien. Satu langkah keberhasilan bertahap dalam pemberantasan cacar ini disebut turk usulu cicek asisi (injeksi cacar Turki)," katanya.
Metode injeksi cacar Turki (variolasi) lantas dipraktikkan wilayah-wilayah Turki Utsmani yang terjangkit wabah cacar, seperti Salonika (sekarang Yunani), Plovdiv (sekarang Bulgaria), Edirne, dan Istanbul. Setelah mengamati metode injeksi cacar Turki ini di Edirne, 1 April 1717, Lady Mary W Montagu (istri Edward Wortley Montagu) yang menjadi Duta Besar Inggris untuk Turki Utsmani di Istanbul (1716-1717) mengirim surat kepada temannya di Inggris, Sarah Chiswell, dan menjelaskan cara injeksi dilakukan.
Baca Juga: Berawal dari Jamaah Shalawat, Berdiri Pesantren Darul Falah"
Cacar, penyakit yang begitu fatal dan melanda umum di antara kita (masyarakat Inggris), di sini (Turki) sama sekali tidak berbahaya dengan penemuan metode pencangkokan (engrafting, jaringan hidup dari penderita yang ditransplantasikan melalui pembedahan). Di musim gugur, beberapa keluarga memanggil seorang wanita tua yang berpengalaman dalam seni pencangkokan dan wanita itu menempatkan beberapa materi (virus) cacar dari kulit di tempat yang digores dengan jarum dan menutupinya dengan sepotong kulit. Anak-anak akan menderita demam delapan hari kemudian, di mana mereka akan memiliki sejumlah kecil pustula (benjolan seperti jerawat) di wajah, yang pastinya akan meninggalkan bekas. Belum ada bukti kasus orang meninggal karena (melakukan ini)," demikian bunyi surat Lady Mary ke Sarah Chiswell.
Sekembali ke negaranya, Lady Mary W Montagu segera menyuntikkan putranya, Edward, yang berusia lima tahun. Dia pun mendedikasikan dirinya untuk Kerajaan Inggris dalam menanggulangi penyakit menular dengan mengadopsi metoda Injeksi Cacar Turki seperti yang diterangkan sebelumnya.
Mengingat, saat itu London tengah diserang wabah cacar. Atas dasar pengetahun tersebut, Lady Mary juga menyuntikkan putrinya yang saat itu berusia empat tahun di hadapan para dokter dari istana Inggris.
Sebagai rasa terima kasih atas manfaat variolasi yang dirasakan, Henriette Inge, memberikan bantuan di Katedral Lichfield. Seraya, dia pun menyampaikan rasa terima kasih atas penemuan metode variolasi dalam menanggulangi wabah cacar.
Baca Juga: Gelar Vaksinasi, OJK Harap Roda Perekonomian Kembali Bergerak"Lady Montagu memperkenalkan teknik yang bermanfaat untuk menyuntik cacar dari Turki ke negara ini. Yakin akan keampuhannya, ia pertama kali mencobanya dengan sukses pada anak-anaknya sendiri dan kemudian merekomendasikan praktik tersebut kepada sesama warganya. Berkat dia, kita telah diselamatkan dari bahaya penyakit ganas ini," demikian ucapan terima kasih Henriette Inge.
"Untuk menguji lebih lanjut keamanan injeksi tersebut, pada 20 Agustus 1721 enam terpidana mati dari penjara Newgate menjalani Injeksi Cacar Turki. Ketika tidak terjadi gejalan apapun pada para terpidana mati tersebut, keluarga kerajaan, para bangsawan, dan banyak politisi mulai menyuntikkan anak-anak mereka," ujarnya.
Setelah itu, pada tahun 1722 dua pangeran di Istana Kerajaan Inggris disuntikkan. Injeksi Cacar Turki lantas menyebar ke seluruh Eropa. Injeksi Cacar Turki tetap menjadi satu-satunya harapan dalam perjuangan melawan penyakit cacar hingga Edward Jenner (1749-1823) menemukan imunisasi cacar sapi (cowpox, vaksinasi) pada 1796.
Baca Juga:
Jangkau Daerah Pelosok, Dinkes Jateng Operasikan Dua Unit Bus Vaksin
Kebakaran Lapas Tangerang, DPR Minta Dirjen PAS Gelar Audit(asf)