LANGIT7.ID, Semarang - Perawakannya tinggi, besar, dengan sorot mata yang tajam. Di lapangan hijau, dia kerap meledak-ledak. Emosi gampang tersulut. Tapi dibalik itu, gerak refleknya bagus, tak heran klub sebesar PSIS Semarang mempertahankan dia sebagai penjaga gawang klub kebanggaan Kota Semarang.
Meski perawakannya besar, siapa sangka di luar lapangan penjaga gawang PSIS Semarang Joko Ribowo justru dikenal santun dan ramah senyum.
Joko Ribowo juga dikenal rajin ibadah. Salat 5 waktu tak pernah dia lewatkan.
“Masih belajar agama. Tidak religius, Insya Allah belajar lebih baik, meskipun belum sempurna, belum bisa 100% sunah,” ujarnya.
Penjaga gawang PSIS Semarang Joko Ribowo memutuskan belajar Islam ketika masih membela Arema FC di Liga 1 2018 silam. Saat itu dia sering mengikuti kajian –kajian Islam bersama rekan setim di Arema, Dendi Santoso.
Saat dipinang PSIS, kebiasaanya masih berlanjut. Saat itu, PSIS memboyong semua pemain ke Magelang, karena tim menggunakan Stadion Moch Soebroto, Kota Magelang, sebagai venue pertandingan setelah Stadion Jatidiri direnovasi.
“Waktu itu belajar langsung dengan ustadz. Ada kajian langsung saat mesnya di Magelang. Kalau sekarang karena ada Covid-19, sudah
nggak lagi,” cerita Joko Ribowo, kepada Langit7, Selasa (7/9).
Sebagai penggantinya, penjaga gawang 32 tahun ini lebih banyak mendengarkan pengajian via Youtube. Pesepak bola asal Demak ini pun tidak kaku dalam belajar agama. Ia banyak menyerap ilmu dari beberapa kiai NU maupun Salafi.
“Kalau NU ada Gus Baha, dan KH Anwar Zahid. Kalau Salafi, Ustad Khalid Basalamah dan Ustadz Adi Hidayat, ini yang sering saya tonton,” ucapnya.
Lingkungannya juga cukup mendukung untuk belajar agama. Di kampung tempat kelahirannya di Demak, rekannya bermain saat kecil, juga menjadi kiai muda dan pengelola pondok pesantren. Kawannya itu juga ikut mendukung sekolah sepak bola (SSB) yang sudah dirintisnya.
Joko Ribowo sadar, selain sebagai pesepak bola profesional, di rumah ia menjadi orang tua, bagi anak perempuannya, Heighenisa Lega Ribowo dan juga pemimpin di Joko Ribowo Football Academy (JFA), yang didirikannya untuk menjaring talenta-talenta pesepak bola berbakat.
“Karena saya juga kepala keluarga dan pemimpin di SBB, jadi harus memberikan contoh dan teladan yang baik buat anak-anakku,” tuturnya.
Selama 3 tahun mendalami agama Islam, panjaga gawang ke-2 PSIS ini merasakan banyak perbedaan. Di antaranya tidak cepat tersulut emosi, lebih adem, makin tenang dan terus berusaha mencoba menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain.
“Kalau shalat 5 waktu Insya Allah aman, meski kadang tidak berjamaah. Tapi untuk salat malam, memang belum serutin 5 waktu, mungkin faktor capek, jadi sulit bangun,” ucapnya.
Di lapangan hijau pun, Joko Ribowo tidak mau melewatkan aktivitasnya, jauh dari sunah maupun adab dalam Agama Islam. Seperti mengenakan celana sampai ke lutut saat latihan, begitu juga minum dalam posisi jongkok.
(sof)